20 Februari 2008

Menerobos Gelapnya Labirin Disleksia

DIMUAT DI KORAN PENDIDIKAN EDISI MINGGU KEDUA FEBRUARI 2008


Judul: Living with Dyslexia: Pergulatan Ibu Melepaskan Putranya dari Derita Kesulitan Belajar
Penulis : Lissa Weinstein, Ph.D
Pengantar : Dr. Seto Mulyadi
Penerbit : Qanita Mizan
Cetakan : I/Januari 2008
Tebal : xxviii+358 halaman
Peresensi : Husamah*

Menerobos Gelapnya Labirin Disleksia

Disleksia sering dikenal dengan ketidakmampuan mengenal huruf dan suku kata dalam bentuk tertulis atau ketidakmampuan dalam membaca. Penderita disleksia mengalami kesulitan membedakan bunyi fonetik yang menyusun sebuah kata. Mereka dapat menangkap kata dengan indra pendengaran dan penglihatan tapi karena kelainan saraf pada otak sehingga kesulitan menuliskan huruf.
Penyebab disleksia adalah faktor genetis, yaitu dari garis keturunan orang tua. Penyakit ini terjadi pada 5%-10% seluruh anak di dunia. Meskipun mengalami kesulitan menulis huruf dan tentunya kesulitan belajar, bukan berarti disleksia merupakan ketidakmampuan intelektual.
Faktanya, penyandang disleksia adalah orang yang tajam secara visual (gambar), berdaya intuisi tinggi, dan pemikir multidimensional. Contoh konkritnya adalah orang-orang besar dunia seperti Tom Cruise, Whoopi Goldberg, Keanu Revers, Leonardo Da Vinci, Pablo Picasso, Muhammad Ali, Magic Jhonson, Hendri Ford, Walt Disney, John Lennon, Winston Churchill, Agatha Christie dan JF Kennedy. Bahkan tokoh-tokoh jenius seperti Alexander Graham Bell, Albert Einstein, dan Thomas Alfa Edison pernah menyandang disleksia.
Memang pada dasarnya setiap orang tua menginginkan anaknya tumbuh normal, baik secara fisik, emosional dan intelektual. Lalu bagaimana jika suatu ketika orang tua dihadapkan pada kondisi bahwa anaknya menderita disleksia? Apakah anak akan dibiarkan begitu saja dalam deritannya tanpa adanya perjuangan dari orang tua untuk memerdekakan dan mengubahnya?
Sebaiknya, berkacalah pada buku yang didasarkan pada kisah nyata (true story) seorang ibu bernama Lisa Weinstein ini. Lissa Weinstein, menuliskan pengalaman berharga, pahit-getir, kecemasan-kecemasan dalam menangani anaknya, David, sampai keluar dari gelap labirin disleksia dan menjadi anak yang luar biasa.
Ada beberapa nasehat bijak yang disampaikan penulis kepada para orang tua. Pertama, jangan hanya menunggu dan melihat. Segera ambil tindakan dini dan jangan dengarkan keragu-raguan dalam diri. Jika perasaan mengatakan ada sesuatu yang berbeda pada anak anda, periksalah segera. Para ibu memiliki kesadaran naluriah mengenai perilaku anak yang tidak mengikuti perkembangan umum. Tidak ada ruginya jika anak segera dites dan di-remediasi.
Kedua, percayalah pada minat anak dan jadikan andalan. Biarkan mereka bermain. Permainan adalah sarana luar biasa yang bisa dikendalikan untuk membantu pembelajaran, Bermain membantu anak mengelola trauma akibat tidak bisa membaca itu dengan mengubah kenyataan untuk membantunya menguasai keterampilan tertentu. Dengan mengandalkan minat-minat, anak meminjam energi itu untuk mengatasi kegelisahannya. Jangan sekedar berbicara dengan anak. Duduklah dilantai dan bermainlah bersama mereka.
Ketiga, membacalah untuk anak, sementara dia menatap kata-kata. Perbanyaklah membaca untuk anak. Jika, kata, bentuk, atau bunyi itu sudah pernah ditemui anak sebelumnya, si anak akan lebih mudah mengenali dari ciri-ciri atau fragmen-fragmennya, sehingga memperbesar kemungkinan bahwa anak akan bisa mengenali kata itu waktu dia melihatnya.
Keempat, jadilah teman belajar, bukan tutor. Bacalah buku yang sedang dibaca anak. Cari video buku itu untuk membantunya mengenali tokoh-tokoh dalam cerita. Anak-anak penyandang kesulitan belajar sering kali sukar "memasuk" buku karena mereka sulit mengingat nama tokohnya. Jika pertama kali memasuki saja sudah susah, mereka justru akan menggeletakkan buku.
Pelajaran lain yang dipetik yaitu terimalah keterbatasan pada diri anda. Menurut lisa, melalui keterbatasan-keterbatasan itu, kemungkinan-kemungkinan baru akan muncul. Pada halaman 338-339, Lissa menulis, "Kesulitan-kesulitannya juga memberiku kesempatan untuk menjalin hubungan yang teramat akrab dengan putraku; hubungan yang mungkin tidak akan kumiliki seandainya dia tidak menyandang disleksia. Secara paradox, menyandang kesulitan belajar adalah sumber keuletan bagi David. David, seorang pengamat diri yang hebat, memiliki kesadaran yang hebat tentang bagaimana pikirannya bekerja. ….. David juga seorang penulis yang baik, aksesnya terhadap bahan-bahan visual dan perumpamaan membuat kata-katanya terasa tepat sasaran, tidak seperti kata-kataku."
Masih banyak lagi pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah nyata buku ini, sejak bagian awal. Lissa telah menelanjangi fakta-fakta disleksia dan juga emosi-emosi manusia yang sesungguhnya di bawah label kesulitan belajar. Akhirnya, seperti yang dituturkan Dr Seto Mulyadi (Kak Seto), buku ini perlu disambut gembira. Buku ini tentunya akan sangat bermanfaat bagi kita semua, khususnya para orang tua yang memiliki putra-putri yang menyandang kesulitan belajar. Kehadiran buku ini akan sangat membantu melengkapi pustaka kesulitan belajar, khususnya disleksia yang selama ini masih jarang.

*) Husamah
Editor Majalah "Spora" Biologi UMM dan Ketua Forum Diskusi Ilmiah (FDI)-UMM

Tidak ada komentar: