29 Oktober 2009

SOAL ACC EKOLOGI TUMBUHAN


Diketahui bahwa rumput teki (Cyperus rotundus)memiliki zat allelopati. Dapatkah rumput teki digunakan sebagai herbisida (pembasmi gulma) alternatif pengganti herbisida sintetik/buatan? Bagaimana cara penggunaan atau aplikasinya? Jelaskan pendapatmu, gunakan literatur terkait secara cermat!

GOOD LUCK..SUKSES BUAT ANDA

NILAI ACC ONLINE

TO SEMUANYA: LAPORAN SUDAH SAYA KOREKSI...BISA DIAMBIL DILOKER..
UNTUK NILAI ACC ONLINE NILAINYA ADALAH: 23, KECUALI YANG SAYA KIRIM VIA EMAIL/FB MASING-MASING. NILAI INI DAPAT BERUBAH JIKA SUATU SAAT TERDAPAT KEKELIRUAN YANG FATAL/URGEN. SILAHKAN PRINT KOMENTAR INI SEBAGAI BUKTI.

MALANG, 13 NOVEMBER 2009
HUSAMAH (INSTRUKTUR EKTUM)

70 komentar:

alvin mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Khoirul Umam KKR mengatakan...

Aduwh....

Bisa-bisa

Khoirul Umam KKR mengatakan...

Khoirul Umam
08330015
Biologi 3A

Senyawa alelopati yang terdapat dalam rumput teki (Cyperus rotundus) dapat digunakan sebagai bioherbisida. zat alelopati yang terdapat dalam rumput teki (Cyperus rotundus) adalah plavonoid dan alkaloid. kedua zat ini dapat digunakan sebagai bioherbisida dengan cara membiarkan rumput teki (Cyperus rotundus) tumbuh bebas disekitar tanaman gulma yang ingin dihancurkan. rumput teki (Cyperus rotundus) dapat merusak tumbuhan gulma disekitarnya melalui eksudat akar dan melalui pembusukan organ tumbuhan. pembusukan organ tumbuhan ini biasanya terjadi apabila rumput teki (Cyperus rotundus) mati dan sisa-sisa tumbuhannya yang mengandung senyawa kimia tercuci dan mengenai tumbuhan gulma yang lain. disamping adanya pelepasan langsung senyawa-senyawa alelopati dari rumput teki (Cyperus rotundus) , mikroba-mikroba yang ada dilapisan rizosfer dapat memacu produksi senyawa alelopati yang lain melalui pemecahan secara enzimatis dari polimer-polimer yang ada dijaringan. sebagai contohnya adalah peranan mikroba prunus pada rumput teki (Cyperus rotundus) menjadi senyawa beracun, asam sianida dan benzaldehida. (Sastroutomo, SS, 1990). cara yang kedua untuk membuat bioherbisida rumput teki (Cyperus rotundus) yakni dengan membuat ekstrak rumput teki dengan cara:
Pertama menyiapkan rumput teki dan air dengan perbandingan 50:50
membersihkan rumput teki
menghaluskan semua rumput teki dengan cara ditumbuk
menambahkan air pada hasil tumbukan rumput teki
menyaring hingga diperoleh ekstrak rumput teki
ekstrak rumput teki dapat digunakan sebagai bioherbisida dengan cara disiramkan pada tanaman gulma yang ingin dirusak
Ekstrak rumput teki dapat menghambat dan merusak tanaman gulma yang lain karena dalam ekstrak rumput teki terdapat zat asam aromatik, asam organik dan aldehida.
Sumber : Sastroutomo, SS.1990. Ekologi Gulma. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta

Anonim mengatakan...

NAMA: DONNY EKO P.
NIM : 08330070
KELAS: 3A

Dapat, Rumput teki termasuk gulma berdaun lebar juga cukup berbahaya karena kemampuannya untuk menurunkan hasil pada tanaman lebih besar dibandingkan jenis gulma lainnya.(awan). Selain itu pertumbuhannya dapat mengganggu pertumbuhan tanaman produksi lain melalui kompetisi karena rumput teki menggandung zat allelopati. Alelopati merupakan suatu peristiwa dimana suatu individu tumbuhan yang menghasilkan zat kimia dan dapat menghambat pertumbuhan jenis yang lain yang tumbuh bersaing dengan tumbuhan tersebut (Atani.2007). Senyawa kimia tersebut dapat mempengaruhi tumbuhan yang lain melalui penyerapan unsur hara, penghambatan pembelahan sel,pertumbuhan, proses fotosintesis, proses respirasi, sintesis protein, dan proses-proses metabolisme yang lain(Ali.2008).Selain itu senyawa alelopati dapat menghambat penyerapan hara yaitu dengan menurunkan kecepatan penyerapan ion-ion oleh tumbuhan, menghambat pembelahan sel-sel akar tumbuhan, menghambat pertumbuhan yaitu dengan mempengaruhi pembesaran sel tumbuhan, memberikan pengaruh menghambat respirasi akar, memberikan pengaruh menghambat sintesis protein, dapat menurunkan daya permeabilitas membran pada sel tumbuhan, dapat menghambat aktivitas enzim.
Pengamplikasianya zaitu dengan cara membuat ekstrak rumput teki, adapun cara pembuatan ekstrak adalah sebagai berikut.
1.Menimbang akar rumput teki, misal kita mengunakan bahan seberat 50 gram.
2.Memotong-motong akar rumput teki kemudian menghilingnya hingga halus atau diblender
3.kemudian akar rumput teki tersebut dicampur dengan air sebanyak 50 gram (perbandingan 1:1 dengan berat rumput teki)
4.setelah itu menyaringnya dengan kain atau kertas saring sambil memeras-merasnya.
5.Setelah ekstak akar rumput teki didapat, menyiramkan ekstrak tersebut ketanaman secala rutin hinga gulma tersebut mati (± selama 7 hari)


Daftar Pustaka

Atani.2007.http://atanitokyo.blogspot.com/2007.diakses tanggal 31 oktober 2009 pukul 05.00 WIB
Awan..http://awangmaharijaya.wordpress.com/. diakses tanggal 31 oktober 2009 pukul 05.00 WIB
Ali.2008.http://iqbalali.com/2008/01/23/alelopati/. diakses tanggal 31 oktober 2009 pukul 05.00 WIB

Anonim mengatakan...

Arindi Ningtyas
08330027
Biologi 3A

Bisa,karena rumput teki(Cyperus rotundus)merupakan salah satu spesies gulma yang mengandung senyawa beracun (zat alellopati).
Sedangkan Allelopathy yaitu pengeluaran senyawa kimiawi oleh gulma yang beracun bagi tanaman yang lainnya, sehingga merusak pertumbuhannya (Sumberartha,2001). Gulma menimbulkan kerugian-kerugian karena mengadakan persaingan dengan tanaman pokok, mengotori kualitas produksi pertanian, menimbulkan allelopathy, mengganggu kelancaran pekerjaan para petani, sebagai perantara atau sumber hama dan penyakit, mengganggu kesehatan manusia, menaikkan ongkos-ongkos usaha pertanian dan menurunkan produktivitas air. jadi disini rumput teki dapat membantu dan membunuh gulma2 yang dapat merugikan.
Tumbuhan yang masih hidup dapat mengeluarkan senyawa alelopati lewat organ yang berada di atas tanah maupun yang di bawah tanah. Demikian juga tumbuhan yang sudah matipun dapat melepaskan senyawa alelopati lewat organ yang berada di atas tanah maupun yang di bawah tanah.Rumput teki (Cyperus rotundus) yang masih hidup mengeluarkan senyawa alelopati lewat organ di bawah tanah, jika sudah mati baik organ  yang berada di atas tanah maupun yang di bawah tanah sama-sama dapat melepaskan senyawa alelopati.Penelitian semacam ini juga telah banyak dilakukan misalnya pada teki (Cyperus rotundus). Pengaruh teki terhadap pertumbuhan jagung, kedelai dan kacang tanah juga telah dipelajari dengan metode tidak langsung. Ekstrak umbi dari teki dalam berbagai konsentrasi telah digunakan dalam percobaan. Sutarto (1990) memperlihatkan bahwa tekanan ekstrak teki segar 200 dan 300 g/250 ml air menyebabkan pertumbuhan tanaman kacang tanah menjadi kerdil dan kurus, serta potensi hasilnya menurun.

Sumber :
Sumberartha.2001.http://iqbalali.com/2008/01/23/alelopati.

Anonim mengatakan...

Arfa Idama
08330046
Biologi 3A

Dapat digunakan sebagai pengganti herbisida, karena zat alelopati merupakan senyawa yang dapat menghambat aktivitas enzim dan rumput teki merupakan tumbuhan yang mengandung alelopati. Persaingan yang timbul akibat dikeluarkannya zat yang meracuni tumbuhan lain disebut alelopati dan zat kimianya disebut alelopat. Umumnya senyawa yang dikeluarkan adalah dari golongan fenol.
Senyawa-senyawa kimia yang mempunyai potensi alelopati dapat ditemukan di semua jaringan tumbuhan termasuk daun, batang, akar, rizoma, umbi, bunga, buah, dan biji. Senyawa-senyawa alelopati dapat dilepaskan dari jaringan-jaringan tumbuhan dalam berbagai cara termasuk melalui :
a.Penguapan
b.Eksudat akar
c.Pencucian
d.Pembusukan organ tumbuhan
Rumput teki mampu membasmi gulma2 yang ada disekitarnya, hal ini dapat diartikan bahwa rumput teki dapat pula digunakan sebagai alternatif pembasmi hama.

Rohman,dkk.2009.http://info.g-excess.com/id/info/pengertianPenjelasan-Alelopati.info

Anonim mengatakan...

NAMA: JHON FRENTIN
NIM: 08330036
KELAS: 3A

Rumput teki (Cyperus rotundus) merupakan tumbuhan gulma yang tergolong ke dalam famili cyperaceae. Kandungan kimia akar rumput teki memiliki senyawa alkaloid dan glikosida flavonoid (http://alfinjazz.blogspot.com/). Senyawa alkaloid merupakan senyawa organik yang peranannya pada tanaman sebagai faktor penumbuh, pelindung dari hama dan penyakit dan sebagai basa organik. Kandungan alakloid pada rumput teki hanya berkisar 1-2 %. namun apabila kelebihan konsentrasi akan meracuni tumbuhan tersebut. Selain itu ekstrak rumput teki memiliki kandungan Cl yang cukup tinggi, yaitu sebesar 10,893 % (http://digilib.unila.ac.id/files/disk1/33/laptunilapp-gdl-res-2009-drstasviri-1608-2008_lp_-i.pdf). Jika ekstrak rumput teki digunakan sebagai alternatif biopestisida, maka prevalensi keberhasilannya sangat memungkinkan. Secara analisis tematiknya adalah: jika kandungan Cl dalam tanah besar, maka akan menyebabkan kandungan garamnya juga semakin besar (http://www.fao.org/ag/tsunami/docs/20_things_on_salinity_Bahasa.pdf). Kandungan garam yang besar menyebabkan pergerakan air dalam tanah akan melambat, karena pada dasarnya akar tumbuhan menyerap air secara osmosis. Dan jika konsentrasi garam tinggi dari pada kandungan air dalam sel-sel tumbuhan, maka tanah akan menyerap kembali air dalam sel, kekurangan biowater (istilah saya sendiri) inilah yang akan menyebabkan tumbuhan layu dan mati.
Cara penggunaannya adalah:
a) membuat ekstrak rumput teki (Cyperus rotundus).
Cara membuatnya dengan jalan:
mempersiapkan rimpang atau akar rumput teki (Cyperus rotundus), bagian yang akan di ekstrak adalah bagian akarnya. Sebab konsentrasi Cl toksik berada pada bagian akarnya.
Menimbang bahan dengan ukuran 50 gram.
Memotong-motong akar rumput teki menjadi bagian kecilsekali (memudahkan dalam menghancurkan dengan mortal-martil).
Menghaluskan bahan dengan mortal-martil sampai cukup halus.
Menghomogenkan bahan dengan aquades sebanyak 50 ml (perbandingan 1:1).
Menyaring hasil penghomogenan dengan kertas saring.
Memindahkan hasil filtrat ke dalam erlenmeyer.
Untuk uji coba, digunakan hasil ekstrak misalnya dengan ukuran 10 ml. Ukuran ini di sesuaikan dengan heterogenitas perlakuan.
b) pemberian ekstrak akar rumput teki (Cyperus rotundus).
Untuk pemberian ekstrak akar rumput teki (Cyperus rotundus) di siram atau di semprotkan dengan prevalensi dan durasi 30 sekon. Pemberian ini masih dimungkinkan dengan pengulangan selama beberapa hari, sebab penelitian ini belum di coba dan dipublikasikan.

Bahan diskusi:
Dari analisis kualitatif kandungan ekstrak akar rumput teki (Cyperus rotundus), kandungan Cl akan menyebabkan tanah mengandung garam. Jika ekstrak rumput teki dijadikan biopestisida sebagai alternatif pengganti herbisida sintesis maka akan menyebabkan tumbuhan daerah sekitar pemberian ekstrak ini akan terpengaruhi pula. Misalnya pada tanaman padi (Oryza sativa).

DAFTAR PUSTAKA

Alfin. (http://alfinjazz.blogspot.com/) diakses tanggal 31 oktober 2009.
Anonim. 2005. UN-FAO.(http://www.fao.org/ag/tsunami/docs/20_things_on_salinity_Bahasa.pdf) diakses tanggal 31 oktober 2009.
Efkar, Tasviri. 2008. Analisis Kandungan Senyawaan Anorganik dan Uji Toksisitas Cyperus rotundus L yang Digunakan Sebagai Kontrasepsi Wanita. (http://digilib.unila.ac.id/files/disk1/33/laptunilapp-gdl-res-2009-drstasviri-1608-2008_lp_- i.pdf). Diakses tanggal 31 oktober 2009.

Anonim mengatakan...

Nama : Nila Hariesta Citrarini
nim : 08330065
Kelas : biologi 3-B

Beberapa species gulma menyaingi pertanaman dengan mengeluarkan senyawa beracun dari akarnya (root exudates atau lechates) atau dari pembusukan bagian vegetatifnya. Persaingan yang timbul akibat dikeluarkannya zat yang meracuni tumbuhan lain disebut alelopati dan zat kimianya disebut alelopat. Umumnya senyawa yang dikeluarkan adalah dari golongan fenol.Tidak semua gulma mengeluarkan senyawa beracun. Spesies gulma yang diketahui mengeluarkan senyawa racun adalah alang-alang (Imperata cylinarica), grinting (Cynodon dactylon), teki (Cyperus rotundus), Agropyron intermedium, Salvia lenocophyela dan lain-lain.Senyawa-senyawa alelopati dapat dilepaskan dari jaringan-jaringan tumbuhan dalam berbagai cara termasuk melalui :Penguapan, Eksudat akar, Pencucian,Pembusukan organ tumbuhan.

Aplikasi : zat allelopati pada rumtut teki atau ilalang dapat mengkambat pertumbuhan suatu tamanan, yaitu dengan membuat dekok rumput teki
1. mencuci dengan air batang dan daun rumput teki
2. menimbang 100 gr daun dan batang rumpu teki
3. menumbuk dengan halus
3. mencampu dengan aquades 100 ml
memanaskan hingga volume 50%
menyaring dengan kertas saring
Dekok tersebut dapat digunakan sebagai herbisida untuk menghambat pertumbuhan gulma.

daftar pustaka:
http://fp.uns.ac.id/~hamasains/dasarperlintan-4.htm

Anonim mengatakan...

Nama : Maftuhah
NIM : 08330018
KELAS : Biologi 3A
Rumput teki (Cyperus rotundus)yang diketahui mengandung allelopati bisa digunakan sebagai herbisida(pembasmi gulma). pengendalian gulma dengan menggunakan Rumput teki (Cyperus rotundus)disebut pengendalian hayati.pengendalian hayati diartikan sebagai pemanfaatan setiap organisme yang berbeda dengan spesies tumbuhan sasaran seperti gulma untuk mengurangi pertumbuhan gulma itu sendiri dan reproduksinya (Munandir,1993).
Rumput teki (Cyperus rotundus)bisa digunakan sebagai herbisida karena senyawa alelopati yang terkandung didalamnya dapat menghambat penyerapan hara, pembelahan sel-sel akar, pertumbuhan tanaman, fotosintesis, respirasi, sitesis protein, menurunkan daya permeabilitas membran sel dan menghambat aktivitas enzim (http://fp.uns.ac.id/~hamasains/dasarperlintan-4.htma).
penggunaan Rumput teki (Cyperus rotundus) sebagai herbisida adalah dengan cara diekstrak atau dijadikan dekok rumput teki. Menurut Ir. Heru, bagian rumput teki yang bisa digunakan adalah umbinya yang mengandung alkaloid, flavonoid, sineol, pinen, siperon, rotunal, siperenon, dan siperol.
Ekstrak umbi dari teki dalam berbagai konsentrasi telah digunakan dalam beberapa percobaan. Sutarto (1990) memperlihatkan bahwa tekanan ekstrak teki segar 200 dan 300 g/250 ml air menyebabkan pertumbuhan tanaman kacang tanah menjadi kerdil dan kurus, serta potensi hasilnya menurun (http://fp.uns.ac.id/~hamasains/dasarperlintan-4.htm).

DAFTAR PUSTAKA
Anonimous.http://fp.uns.ac.id/~hamasains/dasarperlintan-4.htm
Munandir, Jody.1993.Ilmu Gulma dalam Sistem Pertanian.Jakarta: PT> Raja Grafindo Persada.

Anonim mengatakan...

Nama : Rizqi Amalia
NIM : 08330007/3A

Rumput teki (Cyperus rotundus) bisa dijadikan sebagai alternative pengganti herbisida buatan, karena rumput teki memiliki kandungan zat allelopati dimana zat tersebut dapat mematikan ataupun menghambat pertumbuhan tanaman lain. Kandungan kimia dalam akar rumput teki mengandung alkaloid, glikosida jantung, dan flavonoid. Berdasarkan literatur, diketahui bahwa hampir semua alkaloid di alam mempunyai keaktifan biologis dan memberikan efek fisiologis tertentu pada mahluk hidup (tumbuhan)dan zat alkaloid tersebut dapat menghambat pertumbuhan sejenisnya. http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/biokimia/alkaloid_senyawa_organik_terbanyak_di_alam/.
Dalam pengendaliannya rumput teki tersebut dapat membunuh atau mematikan pertumbuhan gulma.(Munandir,1993).
cara pengaplikasiannya:
dapat membuat ekstrak dari rumput teki tersebut sesuai dengan kebutuhan lahan ataupun tumbuhan yang akan diberi ekstrak rumput teki tersebut. cara selektif dan non-selektif juga dapat diberikan lewat tanah, dan responnya yaitu dengan cara mengadakan kontak dengan akar yang diberikan lewat daun dimana akan mematikan jaringan yang akan diabsorpsikan.(Moenandir,1988).

sumber:
http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/biokimia/alkaloid_senyawa_organik_terbanyak_di_alam/.
Moenandir, Dr.Ir. Jody. 1988. Pengantar Ilmu dan Pengendalian Gulma. Universitas Brawijaya Press. Malang.
Munandir, Jody.1993.Ilmu Gulma dalam Sistem Pertanian.Jakarta: PT> Raja Grafindo Persada.

Anonim mengatakan...

NAMA : LILIK MAS'ULA
KELAS : BIOLOGI- 3A
NIM : 08330010

rumput teki(Cyperus rotundus)dapat digunakan sebagai herbisida alami, menurut Tditrosoedirdjo et. al., (1984), alang-alang dapat mengeluarkan zat alelopati atau zat penghambat pertumbuhan melalui akar atau bagian lainnya, alelopati ini tidak hanya menghambat pertumbuhan tanaman pertanian tetapi juga mengahambat pertumbuhan gulma selain alang-alang (http://books.google.co.id/books?id=ouPaAAAAMAAJ&q=alelopati&dq=alelopati)
Dalam hal ini, seperti halnya alang-alang rumput teki juga termasuk tanaman yang mengandung zat alelopati, sehingga kemungkinan besar rumput teki dapat digunakan sebagai herbisida sintetik
Cara penggunaanyya yaitu dengan menanam atau membiarkan rumput teki disekitar daerah atau lahan yang ditumbuhi gulma, cara lain dengan pengendalian secara hayati, yaitu dengan menggunakan atau penyediaan ekstrak rumput teki. Aspek ini banyak sekali dipengaruhi oleh tipe formulasi herbisida. Disamping itu dipengaruhi oleh macam alat yang digunakan, dosis dan volum semprotan serta cara penyemprotan. Penyediaan ekstrak yang sesuai menyangkut cairan pengencer yang harus dipakai, cairan yang banyak digunakan yaitu air. aplikasi dalam penggunaan ekstrak rumput teki yaitu umumnya melalui tanah. herbisida ini disemprotkan ke tanah, kemudian diserap oleh akar gulma dan ditranslokasikan bersama aliran transpirasi sampai ke "side of action" pada jaringan daun dan menghambat proses pada photosystem II pada fotosintesis(Sukman dan Yakub, 1991).
Daftar Pustaka
http://books.google.co.id/books?id=ouPaAAAAMAAJ&q=alelopati&dq=alelopati
Sukman, Yernelis dan Yakub. 1991.Gulna dan Teknik Pengendaliaanya. Palembang ; Fakultas Pertanian Universitas sriwijaya

Anonim mengatakan...

Mei yuniar 0833005
Biologi 3A

Dapat dilakukan,
Pengendalian gulma memerlukan strategi yang khas untuk setiap kasus. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum melakukan pengendalian gulma antara lain sebagai berikut :
a) Jenis gulma dominan
b) Tanaman budi daya utama
c) Alternatif pengendalian yang tersedia
d) Dampak ekonomi dan ekologi
(http://rhee7.wordpress.com/2009/04/05/hama-dan-penyakit-pada-tumbuhan/)
upaya tersebut dapat dilakukan dengan menggali potensi senyawa kimia yang berasal dari tumbuhan (alelokimia) yang dapat dimanfaatkan sebagai bioherbisida (alelopati). Salah satu yumbuhan yang bersifat alelopati adalah teki (Cyperus rotundus).
alelopati sendiri merupakan interaksi biokomia antara mikroorganisme atau tanaman baik yang bersifat positf maipun negative (Molisch, 1937 dalam Putnam dan Duke, 1978)
cara aplikasikanya yaitu, dengan menggunakan dalam bentuk cairan karena mempunyai keunggulan yang lebih dibandingkan bentuk formulasi yang lain. Selain itu cara memasukan kedalam tanam juga mudah (melalui daun, akar, atau batang) sangat menentukan keberhasilan pengendalian gulma
Pemberian aleopati yang melalui akar dilakukan dengan bersamaan dengan waktu penanaman benih sedangkan aplikasi melalui tajuk gulma diberi pada hari kelima, sepuluh, dan lima belas setelah tanam. Aplikasi melalui akar dilakukan dengan menambahkan 1 ml ekstra formulasi pada tempat benih, sedangkan aplikasi melalui tajuk dilakukan dengan cara menyemprotkan tajuk dengan menggunakan “hand sprayer’” hingga seluruh tajuk basah. Selanjutnya untuk menjaga kelembabapan media dilakuakan dengan cara menambahkan air pada media tanam.
(http://bdpunib.org/jipi/artikeljipi/2001/16.PDF)

Anonim mengatakan...

NAMA : FAUZIAH
NIM : 08330026
JURUSAN : BIOLOGI 3A

Dapat,karena rumput teki(Cyperus rotundus)merupakan senyawa alelopati yang terdapat dalam rumput teki (Cyperus rotundus) dapat digunakan sebagai bioherbisida. Dimana akar teki mengandung alkaloid, glikosida flavonoid dan minyak menguap sebanyak 3-1% yang isinya bervariasi, tergantung daerah asal tumbuhnya. Sedangkan Alelopati pengaruh jelek dari zat kimia (allelopat) yang dikeluarkan tumbuhan tertentu yang dapat merugikan pertumbuhan tumbuhan lain jenis yang tumbuh disekitarnya. Zat kimia yang bersifat racun itu dapat berupa gas atau zat cair dan dapat keluar dari akar, batang maupun daun. Hambatan pertumbuhan akibat adanya allelopat dalam peristiwa allelopati, misalnya hambatan pada pembelahan sel, pengambilan mineral, respirasi, penutupan stomata, sintesis protein, dan lain-lain. Jenis zat yang dikeluarkan pada umumnya berasal dari golongan fenolat, terpenoid, dan alkaloid.Gulma itu sendiri tumbuhan yang kehadirannya tidak diinginkan pada lahan pertanian karena menurunkan hasil yang bisa dicapai oleh tanaman produksi.Dan Rumput teki yang masih segar digiling dan ditimbang, yang kemudian dilakukan ektraksi. Ekstraksi paling baik dilakukan dalam dua tahap : pertama kali dengan MeOH : H2O (9:1) dan kedua kali dengan MeOH : H2O (1:1).pada setiap tahap pelarut ditambahkan secukupnya sehingga terbentuk bubur cair, lalu campuran dibiarkan sampai 6 – 12 jam. Penyaraingan untuk memisahkan ekstrak dapat dilakukan dengan cepat mengunakan corong Buchner. Kedua ekstak kemudian disatukan dan diuapkan sehingga volumenya menjadi 1/3 volume asal, atau sampai hamper semua MeOH menguap.Lalu, ektrak- air yang diperoleh dapat dibebaskan dari senyawa yang kepolaranya rendah seperti lemak, terpena, klorofil, xantofil, dan lain- lain dengan ekstraksi (dalam corong pisah) dengan heksana auat kloroform. Ekstraksi dilakukan beberapa kali dan ekstrak kemudian disatukan.Lapisan air yang telah diekstraksi dengan pelarut dan mengandung bagian terbesar flavonoid lalu diupkan sampai kering pada tekanan rendah dengan mengunakan penguap putar atau rotary.Ektrak yang diperoleh mengandung juga lilin dan lemak yang dapat dipisahkan dengan mengunakan kromatografi. Salah satu kromatografi yang dapat digunakan adalah kromatografi kertas. Dari hasil kromatografi kertas akan timbul bercak pada kertas yang merupakan petunjuk bahwa senyawa tersebut mengandung flavonoid. Berkas glikosida flavonoid yang khas tampak berwarna jelas (lembayung tua) dengan sinar UV dan menjadi kuning atau hijau kuning bila diuapi dengan NH3.Pengamplikasiannya yaitu dengan cara membuat ekstrak rumput teki, adapun cara pembuatan ekstrak adalah sebagai berikut.
1.Menimbang akar rumput teki, misalnya dengan mengunakan bahan seberat 50 gram.
2.Memotong-motong akar rumput teki kemudian menggiling atau menumbuk hingga halus
3.kemudian akar rumput teki tersebut dicampur dengan air sebanyak 50 gram (perbandingan 1:1 dengan berat rumput teki)
4.setelah itu menyaringnya dengan kain atau kertas saring sambil memeras-merasnya sampai airnya habis
5.Setelah ekstak akar rumput teki didapat, menyiramkan ekstrak tersebut ketanaman secala rutin hinga gulma tersebut mati (± selama 7 hari)



Sumber:
Admin.2008.http://Isolasi glikosida Plavon pada rumput teki.diakses tanggal 31 Oktober 2009 pukul 11.19 WIB
Moenandir, J., 1987. Pengenalan dan Pengendalian Gulma Tanaman Kapas, Tembakau dan Serat Karung. Training/latihan perlindungan tanaman perkebunan bagi PLPT, UPP, IKR, Iskara dan IT:1-11

Anonim mengatakan...

Dwiriani Puspitajati
08330014
Bioogi 3A

Dapat. Akhir-akhir ini kebutuhan herbisida untuk mengendalikan gulma terus meningkat, akan tetapi herbisida sintetik mempunyai dampak negatif bagitumbuhan.Maka dari itu diperlukan upaya alternatif pengendlian gulma yang ramah lingkungan. Salah satunya adalah senyawa kimia dari Rumput Teki (Cyperus rotundus)yang dikenal bersifat alelopati. Alelopati adalah interaksi biokimia antara mikroorganisme atau tanaman baik yang bersifat positif maupun negatif. Beberapa gulma yang telah terbukti bersifat alelopati adalah Agropyron repens, L.,Teki(Cyperus rotundus) dan alang-alang(Imperata cylindrica). Gulma-gulma tersebut diketahui sangat kompetitif dengan tanaman dan menyebabkan penurunan produksi(Patterson, 1986).
Akar teki mengandung alkaloid, glikosida jantung, flavonoid dan minyak menguap sebanyak 0,3-1% yang isinya bervariasi, tergantung daerah asal tumbuhnya. Akar yang berasal dari Jepang berisi cyperol, cyperene I & II, alfa-cyperone, cyperotundone dan cyperolone, sedangkan yang berasal dari China berisi patchoulenone dan cyperene (Anonim. 2009). Pada Penelitian berdasarkan jurnal penelitian bahwa akar gulma Mimosa invisa mengalami penghambatan pertumbuhan sampai 63% setelah diberi formulasi ekstrak teki dicampur dengan alkilaril poligloticol eter dan aquades (Setyowati, 2001). Dengan adanya penelitian ini maka tanaman teki dapat dijadikan herbisida alami karena kemampuannya menghambat pertumbuhan akar. Dimana salah satu cara tanman alelopati membunuh tanaman sekitarnya dengan merusak tanaman lain melalui akarnya.
Jadi, Kesimpulannya rumput teki dapat dijadikan herbisida alami.

Daftar Pustaka
Anonim. 2009.Teki. http://www.asiamaya.com/jamu/isi/teki_cyperusrotundus.htm
Patterson DT. 1986. Research Methods in Weed Weed Science:Allelopathy.3rd ed. Southern Weed Sci. Soc.
Setyowati, N. dan Eko S. 2001. efikasi Alelopati Teki Formulasi cairan terhadap gulma Mimosa invisa dan Melochia corchorifolia. Program Studi Agronomi. Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu

Anonim mengatakan...

nama:adining widya
nim:08330047
kelas 3a

Rumput teki mungkin bisa menjadi salah satu alternatif pengganti herbisida sintetik,karena definisi dari herbisida sendiri adalah suatu senyawa kimia baik yang organik maupun anorganik yang dapat di pergunakan untuk mengurangi dan menekan kegiatan pertumbuhan(sumitapura,1980)
menurut beberapa buku pengendalian hayati berarti pemanfaatan organisme yang berbeda dengan spesies tumbuhan sasaran untuk mengurangi pertumbuhan gulma itu sendiri(munandir,1993)
terdapat 2 jenis allelopati yang terjadi di alam:
a.allelopati yang sebenarnya:pelepasan senyawa beracun lngsng dri tubuhn tu sndiri
b.allelopati fungsional:pelepsn senywa kimia ke lngkungn brsifat rcun stelah brgbng dngn mkroba tanah
kedua jnis allelopati ni pnting dlm hbungn gulma dan tnaman budidaya.
pengetahuan ttg jumlah senyawa allelopati yg dpt di hasilkan oleh stiap jnis tumbuhan sngat penting dlm kaitannya dngan pmnfaatannya sbg bioherbisida(sastroutomo,1990)
mka dapat dismpulkan bahwa rumput teki bisa jadi herbisida.
baru2 ini beberapa ahli memanfaatkan allelokimia sbg pngendali gulma dnganmnyeleksi smua jenis allelokimia yg ada dan memindah dngan teknik rekayasa gen.
(sastroutomo,1990)
cara aplikasi dapat dilakukan dengan ekstrak teki:
a.herbisida kontak:membunuh bagian yang di semprot saja.
b.herbisida translokasi:membunuh bagian yang tdk di smprot juga.
c.herbisida selektif dan tidak
membunuh spesies tertentu(dep pertanian,1985).
dapus:munandir,jody.1993.ilmu gulma.pt.raja grafindo.jakarta
Sastroutomo, SS.1990. Ekologi Gulma jilid 1. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta

Anonim mengatakan...

Siti Halilah
08330024
BIOLOGI 3A


Dapat, Rumput teki dapat dijadikan sebagai herbisida alami karena rumput teki sendiri merupakan suatu tumbuhan yang memiliki potensi mengeluarkan senyawa alelopati. Tumbuhan yang masih hidup dapat mengeluarkan senyawa alelopati lewat organ yang berada di atas tanah maupun yang di bawah tanah. Demikian juga tumbuhan yang sudah matipun dapat melepaskan senyawa alelopati lewat organ yang berada di atas tanah maupun yang di bawah tanah. Alang-alang (Imperata cyndrica) dan teki (Cyperus rotundus) yang masih hidup mengeluarkan senyawa alelopati lewat organ di bawah tanah, jika sudah mati baik organ yang berada di atas tanah maupun yang di bawah tanah sama-sama dapat melepaskan senyawa alelopati (Anonim. 2009). Teki (Cyperus rotundus L.) menghasilkan asam salisilat, yang dapat menghambat/menekan pertumbuhan bahkan meracuni tanaman budidaya dengan mengeluarkan zat alelopati (Sulmaidi, 2009). Bahkan senyawa ini dapat menghambat tumbuhan lain yang juga mengandung senyawa alelopati. Jadi, dapat dimungkinkan dengan adanya kandungan asam salisilat pada rumput teki dapat digunakan untuk menghambat gulma-gulma yang menjadi alelopati bagi tanaman lain.


Daftar Pustaka
Anonim. 2009. http://fp.uns.ac.id/~hamasains/dasarperlintan-4.htm
Sulmaidi. 2009. http://sulmaidi-ua.blogspot.com/2009/04/gulma.html

Anonim mengatakan...

Nama : Yendri Anita
Kelas : Biologi 3A
Nim : 08330032

Rumput teki dapat digunakan sebagai herbisida. Rumput teki termasuk dalam familia cyperaceae dan merupakan rumput semu menahun dengan tinggi 10-95 cm. Permukaan atas berwarna hijau mengkilat dengan panjang daun 10-30 cm dan lebar 3-6 cm. Rumput teki tumbuh liar di tempat terbuka atau sedikit terlindung dari sinar matahari seperti di lahan pertanian (Anonymous, 2009).

Rumput teki mengandung flavonoid dan senyawa allelopati yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman lain (sorgum dan kedelai) ( Soerjani, 1986), jadi rumput teki dapat dijadikan sebagai herbisida untuk membunuh gulma yang tumbuh di sekitar tanaman atau tumbuhan selain sorgum dan kedelai. Spesies gulma yang diketahui mengeluarkan senyawa racun adalah alang-alang (Imperata cylinarica), grinting (Cynodon dactylon), teki (Cyperus rotundus), Agropyron intermedium, Salvia lenocophyela (Anonymous, 2009).
Cara membuat herbisida dari rumput teki yaitu dengan mengekstrak rumput teki:
1.Rumput teki yang masih segar digiling dan ditimbang, yang kemudian dilakukan ektraksi. Ekstraksi paling baik dilakukan dalam dua tahap : pertama kali dengan MeOH : H2O (9:1) dan kedua kali dengan MeOH : H2O (1:1).
2.Pada setiap tahap aquadest ditambahkan secukupnya sehingga terbentuk ekstrak teki.
3.Lalu ekstrak dibiarkan sampai 6 – 12 jam.
4.Kedua ekstrak kemudian disatukan dan diuapkan sehingga volumenya menjadi 1/3 volume asal, atau sampai semua MeOH menguap.
5.Lalu, ektrak- air yang diperoleh dapat dibebaskan dari senyawa yang kepolaranya rendah seperti lemak, terpena, klorofil, xantofil, dan lain- lain dengan ekstraksi (dalam corong pisah) dengan heksana auat rkloroform. Ekstraksi dilakukan beberapa kali dan ekstrak kemudian disatukan.
6.Lapisan air yang telah diekstraksi dengan pelarut dan mengandung bagian terbesar flavonoid lalu diuapkan sampai kering pada tekanan rendah dengan mengunakan penguap putar atau rotary.
7.Ekstrak teki siap digunakan(di semprotkan) sebagai herbisida untuk membunuh gulma yang tumbuh di sekitar tanaman selain sorgum dan kedelai.

Penelitian semacam ini juga telah banyak dilakukan misalnya pada teki (Cyperus rotundus). Pengaruh teki terhadap pertumbuhan jagung, kedelai dan kacang tanah juga telah dipelajari dengan metode tidak langsung. Ekstrak umbi dari teki dalam berbagai konsentrasi telah digunakan dalam percobaan. Sutarto (1990) memperlihatkan bahwa tekanan ekstrak teki segar 200 dan 300 g/250 ml air menyebabkan pertumbuhan tanaman kacang tanah menjadi kerdil dan kurus, serta potensi hasilnya menurun.

Daftar Pustaka
Anonymous. 2009. Allelopati. (http://fp.uns.ac.id/~hamasains/dasarperlintan-4.htm). Diakses tanggal 31 Oktober 2009.
Anonymous. 2009. (http://www.tambur.co.tv/2009/03/isolasi-glikosida-plavon-pada-rumput.html). Di akses tanggal 31 Oktober 2009.
Soerjani, M. 1986. Arah Pengelolahan Gulma diwaktu Mendatang dalam Kaitannya dengan Wawasan Lingkungan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Anonim mengatakan...

Nama : Firman suhardiyanto
Nim : 08330008
Klz : biologi 3A
Rumput teki bisa dijadikan sebagai herbisida sintetik pembasmi gulma.
Rumput teki merupakan tanaman yang mengandung zat allelopati. Zat Alelopati merupakan interaksi antarpopulasi, bila populasi yang satu menghasilkan zat alelopati yang dapat menghalangi tumbuhnya populasi lain. Juga dapat membunuh tumbuhan lain . hal ini jelas jelas menunjukkan bahwa rumput teki bisa dibuat menjadi herbisida pemberantas gulma. Senyawa-senyawa kimia yang mempunyai potensi alelopati dapat ditemukan di semua jaringan tumbuhan termasuk daun, batang, akar, rizoma, umbi, bunga, buah, dan biji. Senyawa-senyawa alelopati dapat dilepaskan dari jaringan-jaringan tumbuhan dalam berbagai cara termasuk melalui : Penguapan ,Eksudat akar ,Pencucian (pada saat hujan),Pembusukan organ tumbuhan(daun atau bunga yang rontok , contoh pada pohon kamboja)
Kandungan Kimia rumput teki :
teki mengandung alkaloid, glikosida flavonoid dan minyak menguap sebanyak 3-1% yang isinya bervariasi, tergantung daerah asal tumbuhnya. Akar yang berasal dari Jepang berisi cyperol, cyperene I & II, alfa-cyperone, cyperotundone dan cyperolone, sedangkan yang berasal dari China berisi patchoulenone dan cyperene.
Pengaplikasian rumput teki :
1. ambil rumput teki secukupnya cuci bersih
2. lalu rumput tekitersebut di ektrak ( bisa di blender, di haluskan manual atau dengan cuek)
3. kemudian di saring dengan kertas saring ,
4. lalu disiramkan pada tumbuhan yang ingin di musnakan

Daftar pustaka

http://www.tambur.dikti.net/?cat=334

http://nandito106.wordpress.com/2009/03/02/alelopati-interaksi-antarpopulasi/

Anonim mengatakan...

Nama : Etriza Maya
Nim : 0833030
Kelas : Biologi 3A

Dapat di gunakan sebagai herbisida sebab mengandung flavonoid dan senyawa allelopati yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman lain (sorgum dan kedelai)(Soerjani, 1986), jadi rumput teki dapat dijadikan sebagai herbisida untuk membunuh gulma yang tumbuh di sekitar tanaman atau tumbuhan selain sorgum dan kedelai. Spesies gulma yang diketahui mengeluarkan senyawa racun adalah alang-alang (Imperata cylinarica), grinting (Cynodon dactylon), teki (Cyperus rotundus), Agropyron intermedium, Salvia lenocophyela (Anonymous, 2009).
Cara membuat herbisida dari rumput teki yaitu dengan mengekstrak rumput teki:
1.Rumput teki yang masih segar digiling dan ditimbang, yang kemudian dilakukan ektraksi. Ekstraksi paling baik dilakukan dalam dua tahap : pertama kali dengan MeOH : H2O (9:1) dan kedua kali dengan MeOH : H2O (1:1).
2.Pada setiap tahap aquadest ditambahkan secukupnya sehingga terbentuk ekstrak teki.
3.Lalu ekstrak dibiarkan sampai 6 – 12 jam.
4.Kedua ekstrak kemudian disatukan dan diuapkan sehingga volumenya menjadi 1/3 volume asal, atau sampai semua MeOH menguap.
5.Lalu, ektrak- air yang diperoleh dapat dibebaskan dari senyawa yang kepolaranya rendah seperti lemak, terpena, klorofil, xantofil, dan lain- lain dengan ekstraksi (dalam corong pisah) dengan heksana auat rkloroform. Ekstraksi dilakukan beberapa kali dan ekstrak kemudian disatukan.
6.Lapisan air yang telah diekstraksi dengan pelarut dan mengandung bagian terbesar flavonoid lalu diuapkan sampai kering pada tekanan rendah dengan mengunakan penguap putar atau rotary.
7.Ekstrak teki siap digunakan(di semprotkan) sebagai herbisida untuk membunuh gulma yang tumbuh di sekitar tanaman selain sorgum dan kedelai.

Rumput teki termasuk dalam familia cyperaceae dan merupakan rumput semu menahun dengan tinggi 10-95 cm. Permukaan atas berwarna hijau mengkilat dengan panjang daun 10-30 cm dan lebar 3-6 cm. Rumput teki tumbuh liar di tempat terbuka atau sedikit terlindung dari sinar matahari seperti di lahan pertanian (Anonymous, 2009).

Pengekstrakan seperti diatas juga telah banyak dilakukan misalnya pada teki (Cyperus rotundus). Pengaruh teki terhadap pertumbuhan jagung, kedelai dan kacang tanah juga telah dipelajari dengan metode tidak langsung. Ekstrak umbi dari teki dalam berbagai konsentrasi telah digunakan dalam percobaan. Sutarto (1990) memperlihatkan bahwa tekanan ekstrak teki segar 200 dan 300 g/250 ml air menyebabkan pertumbuhan tanaman kacang tanah menjadi kerdil dan kurus, serta potensi hasilnya menurun.

Daftar Pustaka
Anonymous. 2009. Allelopati. (http://fp.uns.ac.id/~hamasains/dasarperlintan-4.htm). Diakses tanggal 31 Oktober 2009.
Anonymous. 2009. (http://www.tambur.co.tv/2009/03/isolasi-glikosida-plavon-pada-rumput.html). Di akses tanggal 31 Oktober 2009.
Soerjani, M. 1986. Arah Pengelolahan Gulma diwaktu Mendatang dalam Kaitannya dengan Wawasan Lingkungan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Anonim mengatakan...

NAMA : DONY HENDRO
KELAS : BIOLOGI 3B
NIM :08330111



DAPAT.
Alelopati merupakan interaksi antar populasi, bila populasi yang satu menghasilkan zat yang dapat menghalangi tumbuhnya populasi lain. Contohnya, di sekitar pohon walnut (juglans) jarang ditumbuhi tumbuhan lain karena tumbuhan ini menghasilkan zat yang bersifat toksik. Pada mikroorganisme istilah alelopati dikenal sebagai anabiosa. Contoh jamur Penicillium sp. dapat menghasilkan antibiotika yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri tertentu.# Produksi pestisida alami dari alelokimia. Alelokimia yang menghambat gulma atau patogen diformulasi dan diproduksi secara marketable menjadi pestisida alami (herbisida, fungisida, bakterisida dan sebagainya).
# Pemuliaan tanaman untuk memperoleh kultivar tanaman produksi yang alelopatik bagi gulma pesaingnya. Pada jenis tanaman tertentu mungkin telah ada varitas alami yang bersifat
demikian. Bagi jenis tanaman yang belum mempunyai, kultivar seperti ini perlu dikembangkan melalui pemuliaan tanaman secara konvensional (hibridisasi, seleksi, dan identifikasi) maupun non-konvensional (transformasi gen, fusi protoplas, dan lain-lain).

Pengamplikasianya zaitu dengan cara membuat ekstrak rumput teki, adapun cara pembuatan ekstrak adalah sebagai berikut.
1.Menimbang akar rumput teki, misal kita mengunakan bahan seberat 50 gram.
2.Memotong-motong akar rumput teki kemudian menghilingnya hingga halus atau diblender
3.kemudian akar rumput teki tersebut dicampur dengan air sebanyak 50 gram (perbandingan 1:1 dengan berat rumput teki)
4.setelah itu menyaringnya dengan kain atau kertas saring sambil memeras-merasnya.
5.Setelah ekstak akar rumput teki didapat, menyiramkan ekstrak tersebut ketanaman secala rutin hinga gulma tersebut mati (± selama 7 hari)

http://ilmugulma.blogspot.com/

Anonim mengatakan...

Nama : Nisful laila
Nim :08330067
Kelas : Biologi 3B

Teki merupakan rumput semu menahun dengan tinggi 10-95 cm. Batang rumputnya berbentuk segitifa dan tajam. Daunnya berjumlah 4-10 helai yang terkumpul pada pangkal batang membentuk roset akar dengan pelepah daun tertutup tanah. Helaian daun berbentuk pita bersilang sejajar. Permukaan atas berwarna hijau mengkilat dengan panjang daun 10-30 cm dan lebar 3-6 cm.
Rumput teki tumbuh liar di tempat terbuka atau sedikit terlindung dari sinar matahari seperti di tanah kososng, tegalan, lapangan rumput, pinggir jalan atau di lahan pertanian. Tumbuhan ini terdapat pada ketinggian 2-3000 meter di atas permukaan laut. Tumbuh sebagai gulma yang susah diberantas.
http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=154763

Alelopati merupakan interaksi antarpopulasi, bila populasi yang satu menghasilkan zat yang dapat menghalangi tumbuhnya populasi lain. Contohnya, di sekitar pohon walnut (juglans) jarang ditumbuhi tumbuhan lain karena tumbuhan ini menghasilkan zat yang bersifat toksik. Pada mikroorganisme istilah alelopati dikenal sebagai anabiosa atau antibiotisme. Contoh, jamur Penicillium sp. dapat menghasilkan antibiotika yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri tertentu.
Mekanisme Alelopati
Fenomena alelopati mencakup semua tipe interaksi kimia antartumbuhan, antarmikroorganisme, atau antara tumbuhan dan mikroorganisme (Einhellig, 1995a). Menurut Rice (1984) interaksi tersebut meliputi penghambatan dan pemacuan secara langsung atau tidak langsung suatu senyawa kimia yang dibentuk oleh suatu organisme (tumbuhan, hewan atau mikrobia) terhadap pertumbuhan dan perkembangan organisme lain. Senyawa kimia yang berperan dalam mekanisme itu disebut alelokimia. Pengaruh alelokimia bersifat selektif, yaitu berpengaruh terhadap jenis organisme tertentu namun tidak terhadap organisme lain.

Daftar pustaka
Einhellig FA. 1995a. Allelopathy: Current status and future goals. Dalam Inderjit, Dakhsini KMM, Einhellig FA (Eds). Allelopathy. Organism, Processes and Applications. Washington DC: American Chemical Society. Hal. 1 – 24.
Rice EL. 1984. Allelopathy. Second Edition. Orlando FL: Academic Press
http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=154763 diakses tanggal 31 oktober 2009

Anonim mengatakan...

KRISTINA W
08330058
BIOLOGI 3B

Dapat.
Ekstrak teki dapat menyebabkan klorosis pada daun gulma tetapi tidak mempengaruhi daya kecambah dan tidak menunjukkan konsistensi hambatan terhadap pertumbuhan dan perkembangan terhadap daun gulma tersebut.
alelopati adalah interaksi biokimia antara mikroorganisme atau tanaman baik yang bersifat positif maupun negatif. beberapa gulma yang telah terbukti bersifat alelopati adalah rumput teki (Cyperus rotundus). Gulma tersebut diketahui sangat kompetitif dengan tanaman dan menyebabkan penurunan produktivitas. (Patterson,1990)
ekstrak umbi rumput teki terbukti mampu menghambat perkecambahan dan pertumbuhan kecambah beberapa spesies gulma berdaun lebar.(Setiowaty, 1998)
Caranya, 50gr umbi teki segar dibelender dengan 200ml aquadest, disentrifuse selama 10 menit pada kecepatan 5000rpm. supernatannya dipisahkan dan ditambahkan aquadest hingga volumenya menjadi 500ml. konsentrasi ekstrak yang didapat dari prosedur ini adalah 10%. selanjutnya ekstrak ini diformulasikan dengan senyawa lain, yang dicuci terlebih dahulu untuk menghilangkan bahan-bahan atau senyawa-senyawa lain yang kemungkinan melekat. pencucian dilakukan dengan cara menyiram pasir yang telah dimasukkan kedalam pot secara berulang-ulang. penjarangan dilakukan pada hari ke 10.
(http://bdpunib.org/jipi/artikeljipi/2001/16.PDF)

DAFTAR PUSTAKA
Patterson,D.T.1990.reserch method in weed scient:allelophati.3rd ed.southem weed sci.soc.p 111-134

Setyowati,1998.allelophathic potential of congograss, yellow nutsedge, and sunflowers on selected weed management in managed and natural ecosystem.Biotrop, Bogor (dalam Proses Terbit)

http://bdpunib.org/jipi/artikeljipi/2001/16.PDF

Anonim mengatakan...

Nama : Faurelia Nevidayanti Hadi
NIM :08330059
BIOLOGI 3A

rumput teki (Cyperus rotundus)memiliki zat allelopati. Alelopati adalah interaksi biokimia antara mikroorganisme atau tanaman baik yang bersifat positif atau negatif (molisch,1937 dalam Putnam dan Duke, 1978)
Kandungan dari akar teki sendiri adalah Akar teki mengandung alkaloid, glikosida jantung, flavonoid dan minyak menguap sebanyak 0,3-1% yang isinya bervariasi, tergantung daerah asal tumbuhnya (diakses http://www.asiamaya.com/jamu/isi/teki_cyperusrotundus.htm)
Menurut setyowati,1998 ekstrak umbi teki terbukti mampu menghambat perkecambahan dan pertumbuhan kecambah beberapa spesies gulma berdaun lebar.
Cara penggunaan ekstrak alelopati teki dengan memblender akar/umbi teki dengan campuran aquades kemudian disentrifuse. Selanjutnya ekstrak ini diformulasikan dengan senyawa lain yang bertindak sebagai carrier dalam bentuk formulasi cairan. Dan ekstrak tersebut digunakan sebagai herbisida.
Berdasarkan literatur yang ada menunjukkan bahwa campuran ekstrak umbi teki dengan carrier berpengaruh terhadap variabel panjang akar. Dengan demikian dapat digunakan sebagai herbisida (pembasmi gulma).
Daftar Pustaka
- http://www.asiamaya.com/jamu/isi/teki_cyperusrotundus.htm)
-Setyowati,1998. Respon Pertumbuhan Gulma Terhadap alelopati teki. Prosiding seminar pengelolaan gulma yang tepat guna dan berwawasan lingkungan. Palembang 4 April 1998. Hal 164-169.
-Putnam, A.R and W.B Duke, 1978. Alelopaty in Agroceosystem. Ann. Rev. Phytophatol. 16:431-451.

Anonim mengatakan...

Nama : Ruri Puspa Ardiyanti
Nim : 08330080
Kelas : Biologi 3B

Alelopati
Latin : Cyperus rotundus / C. tuberosus
Indonesia : Rumput Teki / Mota / Koreha wai / Rukut teki / Rukut wuta
English : Nut grass / Field sedge
Cina : Xiang fu
Familia : Cyperaceae
Sinonim: C. curvatus Llanos / C. hexastochyus Rottb. C. / leptostachyus Griff. / C. madicans Fl.Graec. / C. odoratus Osbeck / C. tenuiflorus Royle (non Rottb.)
http://malamindah.wordpress.com/category/garden/
A.Uraian tanaman:
Akar teki atau Rumput palsu (batang segitiga) hidup sepanjang tahun dengan ketinggian mencapai 10 sampai 75 cm.
B.Kandungan Kimia:
Akar teki mengandung alkaloid, glikosida jantung, flavonoid dan minyak menguap sebanyak 0,3-1% yang isinya bervariasi, tergantung daerah asal tumbuhnya. Akar yang berasal dari Jepang berisi cyperol, cyperene I & II, alfa-cyperone, cyperotundone dan cyperolone, sedangkan yang berasal dari China berisi patchoulenone dan cyperene.
http://www.asiamaya.com/jamu/isi/teki_cyperusrotundus.htm

Proses-proses tersebut melalui penjelasan berikut ini.
1.Penguapan
Senyawa alelopati ada yang dilepaskan melalui penguapan. Beberapa genus tumbuhan yang melepaskan senyawa alelopati melalui penguapan adalah Artemisia, Eucalyptus, dan Salvia. Senyawa kimianya termasuk ke dalam golongan terpenoid. Senyawa ini dapat diserap oleh tumbuhan di sekitarnya dalam bentuk uap, bentuk embun, dan dapat pula masuk ke dalam tanah yang akan diserap akar.
2.Eksudat akar
Banyak terdapat senyawa kimia yang dapat dilepaskan oleh akar tumbuhan (eksudat akar), yang kebanyakan berasal dari asam-asam benzoat, sinamat, dan fenolat.
3.Pencucian
Sejumlah senyawa kimia dapat tercuci dari bagian-bagian tumbuhan yang berada di atas permukaan tanah oleh air hujan atau tetesan embun. Hasil cucian daun tumbuhan Crysanthemum sangat beracun, sehingga tidak ada jenis tumbuhan lain yang dapat hidup di bawah naungan tumbuhan ini.
4.Pembusukan organ tumbuhan
Setelah tumbuhan atau bagian-bagian organnya mati, senyawa-senyawa kimia yang mudah larut dapat tercuci dengan cepat. Sel-sel pada bagian-bagian organ yang mati akan kehilangan permeabilitas membrannya dan dengan mudah senyawa-senyawa kimia yang ada didalamnya dilepaskan. Beberapa jenis mulsa dapat meracuni tanaman budidaya atau jenis-jenis tanaman yang ditanam pada musim berikutnya.
pengaruhalelopati terhadap pertumbuhan tanaman adalah sebagai berikut:
1.Senyawa alelopati dapat menghambat penyerapan hara yaitu dengan menurunkan kecepatan penyerapan ion-ion oleh tumbuhan.
2.Beberapa alelopat menghambat pembelahan sel-sel akar tumbuhan.
3.Beberapa alelopat dapat menghambat pertumbuhan yaitu dengan mempengaruhi pembesaran sel tumbuhan.
4.Beberapa senyawa alelopati memberikan pengaruh menghambat respirasi akar.
5.Senyawa alelopati memberikan pengaruh menghambat sintesis protein.
6.Beberapa senyawa alelopati dapat menurunkan daya permeabilitas membran pada sel tumbuhan.
7.Senyawa alelopati dapat menghambat aktivitas enzim.
Tumbuhan yang bersifat sebagai alelopat mempunyai kemampuan bersaing yang lebih hebat sehingga pertumbuhan tanaman pokok lebih terhambat, dan hasilnya semakin menurun (Anonim, tanpa tahun). Namun kuantitas dan kualitas senyawa alelopati yang dikeluarkan oleh tumbuhan dapat dipengaruhi oleh kerapatan tumbuhan alelopat, macam tumbuhan alelopat, saat kemunculan saat kemunculan tumbuhan alelopat, lama keberadaan tumbuhan alelopat, habitus tumbuhan alelopat, kecepatan tumbuh tumbuhan alelopat, dan jalur fotosintesis tumbuhan alelopat (C3 atau C4).
http://iqbalali.com/2008/01/23/alelopati

Daftar pustaka
-http://iqbalali.com/2008/01/23/alelopati diakses tanggal 31 oktober 2009
-http://malamindah.wordpress.com/category/garden/ diakses tanggal 31 oktober 2009
-http://www.asiamaya.com/jamu/isi/teki_cyperusrotundus.htm diakses tanggal 31 oktober 2009

Anonim mengatakan...

Fadhlan Muchlas A.
08330022
BIOLOGI 3A

Bisa Tidak Bisa Iya, Rumput Teki dapat dijadikan sebagai herbisida pada gulma-gulma yang tidak memilki senyawa beracun, misalnya Mimosa invisa. Alelopati merupakan interaksi antar populasi, bila populasi yang satu menghasilkan zat yang dapat menghalangi tumbuhnya populasi lain (Anonim. 2009). Beberapa fitotoksin yang menyebabkan allelopati adalah:
1.Asam-asam fenolik
2.Aldehid-salisildehid, benzaldehid dan vanilin.
3.Koumarin, ekskuletin dan skopoletin.
4.Glukosida, amigdalin dan forigin.
5.Terpen, kamfer dan sineat (Triharso. 2004).
Pada penelitian formula ekstrak teki ditambah alkilaril poliglicol eter sebagai carier dan aquadest dapat menekan panjang akar gulma Mimosa invisa sampai 63% (Setyowati.2001).Selain itu ektrak rumput teki dapat membuat gulma-gulma tingkat rendah mengalami klorosis sehingga gulma tersebut dapat terhambat pertumbuhannya (Setyowati. 2001).

Rumput Teki tidak dapat dijadikan pestisida pada rumput teki lainnya atau pada gulma yang mengeluarkan zat beracun. Spesies gulma yang ketahui mengeluarkan senyawa racun adalah alang-alang (Imperata cylinarica), grinting (Cynodon dactylon), teki (Cyperus rotundus), Agropyron intermedium, Salvia lenocophyela (Triharso, 2004). Maka dari itu rumput teki sulit dijadikan herbisida pada gulma yang memiliki senyawa beracun.

Pembuatan senyawanya yaitu ekstrak teki : alkilaril poligiticol eter:aquadest (1:1:1).

Daftar Pustaka
Anonim. 2009. http://nurrijal-biologimetamorfosis.blogspot.com/2009/01/bab-i-pendahuluan-1_12.html.
Setyowati, N. dan Eko S. 2001. efikasi Alelopati Teki Formulasi cairan terhadap gulma Mimosa invisa dan Melochia corchorifolia. Program Studi Agronomi. Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu.
Triharso. 2004. Dasar-dasar Perlindungan Tanaman. Cetakan ketiga. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Anonim mengatakan...

NAMA : SITI ARUMIYAH
NIM : 08330064
KELAS: BIOLOGI 3B
Dapat,karena pembasmian gulma memerlukan cara yang khas untuk setiap penanganan,
Senyawa-senyawa kimia yang mempunyai potensi alelopati dapat ditemukan di semua jaringan tumbuhan termasuk daun, batang, akar, rizoma, umbi, bunga, buah, dan biji. Senyawa-senyawa alelopati dapat dilepaskan dari jaringan-jaringan tumbuhan dalam berbagai cara termasuk melalui :
a)Penguapan
b)pencucian
c)Eksudat akar
d)Pembusukan organ tumbuhan
senyawa alelopati dapat menghambat penuyerapan hara yaitu dengan mnurunkan kecepatan penyerapan ion-ion oleh tumbuhan.bberapa alelopati menghambat pmbelahan sel-sel akar tumbuhan yaitu dengan mempengaruhi pembesaran sel tumbuhan senyawa alelopati memberikan pengaruh penhambat sintesis protein.
Rumput teki mampu membasmi gulma2 yang ada disekitarnya, hal ini dapat diartikan bahwa rumput teki dapat pula digunakan sebagai alternatif pembasmi hama. Sekaligus rumput bisa digunakan sebagai obat penghilang rasa nyeri akibat menstruasi.
cara penggunaanya atau aplikasinya ialah, dengan menggunakan dalam bentuk cairan karena mempunyai keunggulan yang lebih dibandingkan bentuk formulasi yang lain. dan Selain itu cara memasukan ke dalam tanaman juga mudah (melalui daun, akar, atau batang) sangat menentukan keberhasilan pengendalian gulma.


Sumber: http://bahtera.org/kateglo/?mod=dictionary&action=view&phrase=alelopat.
http://obatherbal.wordpress.com/2009/05/28/rumput-teki-lawan-gangguan-menstruasi/

Anonim mengatakan...

NAMA : NUR SYAHARA SAPUTRI
NIM : 08330074
KELAS: BIOLOGI 3B
Rumput teki dapat digunakan sebagai herbisida(pembasmi gulma). Menurut Setyowati& Suprijono, 1998 dalanm penelitiannya menyatakan bahwa ekstrak umbi teki terbukti mampu menghambat perkecambahan dan pertumbuhan kecambah beberapa spesies gulma berdaun lebar. rumput teki ini dapat digunakan sebagai pengganti herbisida sintetik,karena pada herbisida sintetik mempunyai dampak negatif seperti pencemaran lingkungan meninggalkan residu pada produk pertanian(Setyowati& Suprijono, 1998). Rumput teki mengandungn Alelopati yang merupakan sebuah fenomena berupa bentuk interaksi antara makhluk hidup yang satu dengan makhluk hidup lainnya melalui senyawa kimia. Senyawa-senyawa kimia tersebut dapat ditemukan pada jaringan tumbuhan (daun, batang, akar, rhizoma, bunga, buah, dan biji). Terdapat beberapa cara senyawa-senyawa yang dapat terlepas dari jaringan tumbuhan yaitu sebagai berikut: a)Penguapan b)Eksudat Akar Banyak terdapat senyawa kimia yang dapat dilepaskan oleh akar tumbuhan (eksudat akar), yang kebanyakan berasal dari asam-asam benzoat, sinamat, dan fenolat c)Pencucian Sejumlah senyawa kimia dapat tercuci dari bagian-bagian tumbuhan yang berada di atas permukaan tanah oleh air hujan atau tetesan embun.
d)Pembusukan bagian_bagian organ yang mati.Senyawa alelopati dapat menghambat penyerapan hara yaitu dengan menurunkan kecepatan penyerapan ion-ion oleh tumbuhan.http://iqbalali.com/2008/

Anonim mengatakan...

Risyanti
08330051
Biologi 3b

alelopati merupakan suatu peristiwa dimana suatu individu tumbuhan yang menghasilkan zat kimia dan dapat menghambat pertumbuhan jenis yang lain yang tumbuh bersaing dengan tumbuhan tersebut Senyawa alelopati ada yang dilepaskan melalui penguapan. Beberapa genus tumbuhan yang melepaskan senyawa alelopati melalui penguapan adalah Artemisia, Eucalyptus, dan Salvia. Senyawa kimianya termasuk ke dalam golongan terpenoid. Senyawa ini dapat diserap oleh tumbuhan di sekitarnya dalam bentuk uap, bentuk embun, dan dapat pula masuk ke dalam tanah yang akan diserap akar.Tumbuhan yang bersifat sebagai alelopat mempunyai kemampuan bersaing yang lebih hebat sehingga pertumbuhan tanaman pokok lebih terhambat, dan hasilnya semakin menurun (Anonim, tanpa tahun).
sedangkan rumput teki(Cyperus rotundus)merupakan salah satu spesies gulma yang mengandung senyawa beracun (zat alellopati). Kandungan kimia akar rumput teki memiliki senyawa alkaloid dan glikosida flavonoid, zat alelopati yang terdapat dalam rumput teki (Cyperus rotundus) adalah plavonoid dan alkaloid. kedua zat ini dapat digunakan sebagai bioherbisida dengan cara membiarkan rumput teki (Cyperus rotundus) tumbuh bebas disekitar tanaman gulma yang ingin dihancurkan.
Gulma adalah tumbuhan yang kehadirannya tidak diinginkan pada lahan pertanian karena menurunkan hasil yang bisa dicapai oleh tanaman produksi.Gulma dalam kelompok ini berdaun sempit seperti teki-tekian tetapi memiliki stolon, alih-alih umbi. Stolon ini di dalam tanah membentuk jaringan rumit yang sulit diatasi secara mekanik. Contoh gulma kelompok ini adalah alang-alang (Imperata cylindrica).
Aplikasi : zat allelopati pada rumtut teki atau ilalang dapat mengkambat pertumbuhan suatu tamanan, yaitu dengan membuat dekok rumput teki
1. mencuci dengan air batang dan daun rumput teki
2. menimbang 100 gr daun dan batang rumpu teki
3. menumbuk dengan halus
3. mencampu dengan aquades 100 ml
memanaskan hingga volume 50%
menyaring dengan kertas saring
Dekok tersebut dapat digunakan sebagai herbisida untuk menghambat pertumbuhan gulma.

Daftar Pustaka :
-http://id.wikipedia.org/wiki/Gulma
-http://www.google.co.id/#hl=id&q=allelopati&meta=&aq=f&oq=allelopati&fp=19092503560bfe6e
-http://www.google.co.id/#hl=id&q=rumput+teki&meta=&aq=&oq=rumput+teki&fp=19092503560bfe6e
-http://www.google.co.id/#hl=id&q=rumput+teki+sebagai+herbisida&meta=&aq=&oq=&fp=19092503560bfe6e

Anonim mengatakan...

Nama: Wawan W. Efendi (08330029)
Kelas : Biologi III-A
Assalamu'alaikum

Malang, 31 Oktober 2009
ACC Ektum (Alelopati)
Pertanyaan:
Diketahui bahwa rumput teki (Cyperus rotundus)memiliki zat allelopati. Dapatkah rumput teki digunakan sebagai herbisida (pembasmi gulma) alternatif pengganti herbisida sintetik/buatan? Bagaimana cara penggunaan atau aplikasinya? Jelaskan pendapatmu, gunakan literatur terkait secara cermat!
Jawaban:
^ Rumput teki (Cyperus rotundus) Dapat digunakan sebagai herbisida (pembasmi gulma).
Alelopati yang terdapat pada rumput teki (Cyperus rotundus) dapat dimanfaatkan sebagai herbisida (pembasmi gulma), dikarenakan dapat meghambat pertumbuhan gulma. Sebagaimana menurut Setyowati (2001) bahwa, estrak umbi teki terbukti mampu menghambat perkecambahan dan pertumbuhan beberapa gulma berdaun lebar. Selain itu menurut Rice (2001) alelopati merupakan interaksi kimia antar tumbuhan yang meliputi penghambatan dan pemacuan secara langsung atau tidak langsung yang dibentuk oleh suatu organisme terhadap pertumbuhan dan perkembangan organisme lain.
^ Rumput Teki (Cyperus rotundus) Dapat digunakan sebagai herbisida (pembasmi gulma) dengan cara ekstraksi
Penelitian yang dilakukan oleh Nanik Setyowati dan Eko Suprijono (2001) menunjukan bahwa, rumput teki (Cyperus rotundus) dapat dimanfaatkan sebagai herbisida (pembasmi gulma) dengan cara diekstrak, mereka melakukan percobaan tersebut dengan menggunakan 50 gr umbi teki (Cyperus rotundus) yang diblender dengan ditambah 200 mL aquades dan di sentrifuge selama 10 menit pada kecepatan 5000 rpm, dan filtratnya digunakan untuk percobaan terhadap pertumbuhan gulma.
Daftar Pustaka
Rice EL. 1984. Allelopathy. Second Edition. Orlando FL: Academic Press.
Setyowati, N. dan E. Suprijono. 2001. Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian Indonesia. Vol. 3. No. 1. 2001. Halaman 16-24. (online) http://www.bdpunib.org/jipi/artikeljipi/2001. Diakses tanggal 30 Oktober 2009.
http://nandito106.wordpress.com/2009/03/02/alelopati-interaksi-antarpopulasi

Terimakasih

Anonim mengatakan...

NUR LATHIFAH VIRGIANI
08330073
BIOLOGI 3B

Bisa,,,
bahan aktiv herbisida selalu diformulasikan dalam berbagai bentuk sebelum diaplikasikan ketumbuhan sasaran. formulasi herbisida bermacam-macam antara lain dapat berupa cairan, tepung, butiran, palet dan sebagainya. bahan aktiv herbisida jika tidak diformulasikan, maka tidak dapat digunakan dengan baik oleh konsumen. agar bahan tersebut dapat diaplikasikan dengan baik, dan benar maka perlu diformulasikan. herbisida dalam bentuk formulasi akan mempermudah dan mempertingkatkan pengangkutan, penyimpanan, aplikasi, efikasi dan keselamatan kerja.formulasi herbisida dapat dilakukan dengan menambahkan bahan aktiv dengan pembawa (carrier), baik berupa pelarut, surfaktan, lempung, gambut dan lain-lain. (anderson. 1983, akobundu. 1987)
ekstrak umbi teki ini berpotensi untuk dikembangkan sebagai bioherbisida. pada penelitian ini, ekstrak umbi teki dicoba dicampur dengan bahan perekat dan perata untuk selanjutnya dievakuasi efikasinya terhadap gulma.
Caranya, 50gr umbi teki segar dibelender dengan 200ml aquadest, disentrifuse selama 10 menit pada kecepatan 5000rpm. supernatannya dipisahkan dan ditambahkan aquadest hingga volumenya menjadi 500ml. konsentrasi ekstrak yang didapat dari prosedur ini adalah 10%. selanjutnya ekstrak ini diformulasikan dengan senyawa lain, yang dicuci terlebih dahulu untuk menghilangkan bahan-bahan atau senyawa-senyawa lain yang kemungkinan melekat. pencucian dilakukan dengan cara menyiram pasir yang telah dimasukkan kedalam pot secara berulang-ulang. penjarangan dilakukan pada hari ke 10.
(http://bdpunib.org/jipi/artikeljipi/2001/16.PDF)

DAFTAR PUSTAKA

Akobundu,I.O.1987.weed science in the tropics: principles and practices. john wiley and sons, new york. 522 p

anderson, w.p.1983.weed science:principles.2nd.ed.west publishing Co.,minnesota. 655 p.

http://bdpunib.org/jipi/artikeljipi/2001/16.PDF

Anonim mengatakan...

Mia Lucky F.
08330017
BIOLOGI 3A

Menurut saya Bisa, Allelopati dapat diartikan sebagai pengaruh yang merugikan (menghambat, merusak) secara langsung maupun tidak langsung dari suatu tumbuhan terhadap tumbuhan lain melalui produksi senyawa kimia yang dilepaskan dan dibebaskan langsung ke lingkungan hidup tumbuhan tersebut. Berdasarkan definisi tersebut, ternyata pengertian allelopati itu berbeda dengan persaingan atau kompetisi. Pada persaingan atau kompetisi, proses yang terjadi merupakan pengurangan atau pemenfaatan dari satu atau beberapa faktor lingkungan misalnya, cahaya, air dan zat hara yang diperlukan oleh beberapa tumbuhan yang berkompetisi. Pada allelopati, proses yang terjadi merupakan pengaruh yang merugikan tumbuhan disebabkan oleh senyawa-senyawa kimia yang dihasilkan tumbuhan lain ke lingkungannya (Indriyanto, 2006). Sedangkan rumput teki adalah salah satu dari tumbuhan yang memiliki sifat alelopati. Zat-zat kimia atau bahan organik yang bersifat allelopati dapat digolongkan menjadi dua golongan berdasarkan pengaruhnya terhadap tumbuhan atau tanaman lain sebagai berikut.
1.Autotoxid, yaitu zat kimia bersifat allelopati dari suatu tumbuhan dapat mematikan atau menghambat pertumbuhan anaknya sendiri atau individu lain yang sama jenisnya.
2.Antitoxic, yaitu zat kimia bersifat allelopati dari suatu tumbuhan yang dapat mematikan atau menghambat pertumbuhan tumbuhan lain yang berbeda jenisnya
(Setiadi, 1983).
Akar teki mengandung alkaloid, glikosida flavonoid dan minyak menguap sebanyak 3-1% yang isinya bervariasi, tergantung daerah asal tumbuhnya. Akar yang berasal dari Jepang berisi cyperol, cyperene I & II, alfa-cyperone, cyperotundone dan cyperolone, sedangkan yang berasal dari China berisi patchoulenone dan cyperene (Anonim. 2009). Jadi, dengan adanya senyawa alkaloid dan juga sifat dari rumput teki itu sendiri yang bersifat sebagai alelopati maka dimungkinkan rumput teki dapat dijadikan herbisida alami. Caranya dengan membuat ekstrak Teki dengan mencampur dengan Aquadest seperti yang telah dilakukan dipraktikum dimana ekstraknya didapatkan sebanyak 50 ml setiap pembuatan.

Daftar Pustaka
Anonim. 2009. http://www.tambur.dikti.net/?p=223
Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan. Bumi Aksara. Jakarta.Setiadi, Y. 1983. Pengertian Dasar tentang Konsep Ekosistem. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Anonim mengatakan...

Asslamu'alaikum

Nama : Zulaikhah Nuraini

Nim : 08330053

Kelas : Biologi III-B



ACC Ekologi Tumbuhan (Alelopati)

Soal:

Diketahui bahwa rumput teki (Cyperus rotundus)memiliki zat allelopati. Dapatkah rumput teki digunakan sebagai herbisida (pembasmi gulma) alternatif pengganti herbisida sintetik/buatan? Bagaimana cara penggunaan atau aplikasinya? Jelaskan pendapatmu, gunakan literatur terkait secara cermat!

Jawaban:

· Dapat digunakan sebagai herbisida (pembasmi gulma)

Alelopati yang terdapat pada rumput teki (Cyperus rotundus) dapat dimanfaatkan sebagai herbisida (pembasmi gulma), dikarenakan dapat meghambat pertumbuhan gulma. Sebagaimana menurut Setyowati (1998) bahwa, estrak umbi teki terbukti mampu menghambat perkecambahan dan pertumbuhan beberapa gulma berdaun lebar. Selain itu menurut Rice (2001) alelopati merupakan interaksi kimia antar tumbuhan yang meliputi penghambatan dan pemacuan secara langsung atau tidak langsung yang dibentuk oleh suatu organisme terhadap pertumbuhan dan perkembangan organisme lain.

· Dapat digunakan dengan ekstraksi

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Nanik Setyowati dan Eko Suprijono (2001) bahwa, rumput teki (Cyperus rotundus) dapat dimanfaatkan sebagai herbisida (pembasmi gulma) dengan cara diekstrak, yaitu dengan menggunakan 50 gr umbi teki (Cyperus rotundus) yang diblender dengan 200 mL aquadest dan di sentrifuge selama 10 menit pada kecepatan 5000 rpm, dan filtratnya digunakan untuk percobaan terhadap pertumbuhan gulma.

Daftar Pustaka

Rice EL. 1984. Allelopathy. Second Edition. Orlando FL: Academic Press.

Setyowati, N. dan E. Suprijono. 2001. Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian Indonesia. Vol. 3. No. 1. 2001. Halaman 16-24. (online) http://www.bdpunib.org/jipi/artikeljipi/2001. Diakses tanggal 30 Oktober 2009

Anonim mengatakan...

NAMA : INDAH DWI NUR R
nim : 08330079
klas : 3B
dapat, karena rumput teki mempunyai zat alelopati. menurut Rice ( 1984) interaksi alelopati dapat enghambat dan memacu secara langsung atau tidak langsung terhadap pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan lain.
alelokimia merupakan metabolit sekunder yang dikelompokkan menjadi 14 golongan yaitu asam organik larut air, lakton, asam lemnak rantai panjang, quinon, terpenoid, flavonoid, asam amino non protein, sulfida srta nukleusida ( Rice, 1984; Einhellig, 1995).
CARA PENNGUNAAN ATAU APLIKASINYA
denga menggunkan ekstrak atau rumput teki di tumbuk. karena pross pnyerapan diawali di membran plasa yang brpengaruh pada konsentrasi dan penyerapan ion dan air yang kemudian mempengaruhi pembukaan stomata dan proses fotosintsis, hambatan berikutnya terjadi dalam proses sintsis protein, pigmen dan senyawa karbon lain yang rmuara pada pembelahan dan pembesaran sel yang akhirnya menghambat pertumbuhan dan perkembanga tumbuhan sasaran

Sumber :
Einhellig FA. 1995. Allelopati:Current status and future goals. Dalam inderjit, Dakhsini KMM, Rinhllig FA(Eds). Allelopati oRGANISM Prcsses and Application. American Chemical Society:Washington DC

Rice EL. 1984. Allelopati.Second Edition.Orlando FL : academic press

Anonim mengatakan...

Diyah Ariska
08330011
3A

Allelopathy yaitu pengeluaran senyawa kimiawi oleh gulma yang beracun bagi tanaman yang lainnya, sehingga merusak pertumbuhannya. Alang-alang (Imperata cylindrica) merupakan gulma tahunan yang keberadaannya sangat tidak dikehendaki oleh kaum petani khususnya. Tumbuhan ini banyak terdapat di lahan pertanian di daerah tropis dan subtropis. Alang-alang dapat menghasilkan hormon alelopati, yaitu zat yang dapat mematikan tumbuhan lain. Akibat pada suatu lahan dapat terjadi monokultur, dan yang ada hanya alang-alang. Dengan mengacu pada kemampuan alelopati untuk mematikan tumbuhan lainGulma menimbulkan kerugian-kerugian karena mengadakan persaingan dengan tanaman pokok, mengotori kualitas produksi pertanian, menimbulkan allelopathy, mengganggu kelancaran pekerjaan para petani, sebagai perantara atau sumber hama dan penyakit, mengganggu kesehatan manusia. Beberapa species gulma menyaingi tanaman dengan mengeluarkan senyawa dan zat-zat beracun dari akarnya (root exudates atau lechates) atau dari pembusukan bagian vegetatifnya. Bagi gulma yang mengeluarkan allelopat mempunyai kemampuan bersaing yang lebih hebat sehingga pertumbuhan tanaman pokok lebih terhambat, dan hasilnya semakin menurun. Di samping itu kemiripan gulma dengan tanaman juga mempunyai arti penting. Masing-masing pertanaman memiliki asosiasi gulma tertentu dan gulma yang lebih berbahaya adalah yang mirip dengan pertanamannnya. Sebagai contoh Echinochloa crusgalli lebih mampu bersaing terhadap padi jika dibandingkan dengan gulma lainnya. Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan beberapa cara. Secara preventif, misalnya dengan pembersihan bibit-bibit pertanaman dari kontaminasi biji-biji gulma, pencegahan pemakaian pupuk kandang yang belum matang, pencegahan pengangkutan jarak jauh jerami dan rumput-rumputan makanan ternak, pemberantasan gulma di sisi-sisi sungai dan saluran-saluran pengairan, pembersihan ternak yang akan diangkut, pencegahan pengangkutan tanaman berikut tanahnya dan sebagainya. Secara fisik, misal dengan pengolahan tanah, pembabatan, penggenangan, pembakaran dan pemakaian mulsa. Dengan sistem budidaya, misal dengan pergiliran tanaman, budidaya pertanaman dan penaungan dengan tumbuhan penutup (cover crops). Secara biologis, yaitu dengan menggunakan organisme lain seperti insekta, fungi, ternak, ikan dan sebagainya. Secara kimiawi, yaitu dengan menggunakan herbisida atau senyawa kimia yang dapat digunakan untuk mematikan atau menekan pertumbuhan gulma baik secara selektif maupun non selektif, kontak atau sistemik, digunakan saat pratanam, pratumbuh atau pasca tumbuh. pemberian alelopati dalam kadar tertentu pada gulma teki dan satu jenis tanaman budidaya (bawang merah) sebagai pembanding. Pengamatan dilaksanakan selama 4 hari. Hasil penelitian ini membuktikan menjelaskan bahwa herbisida dari alelopati rimpang alang-alang efektif mematikan rumput teki pada kadar ekstrak di atas atau sama dengan 60% (kadar fenol 0,56124%). Pada pemakaian ekstrak 20% (kadar fenol 0, 46255%) dan 40% (kadar fenol 0,4790%) ternyata rumput teki justru makin baik pertumbuhannya. Sedangkan untuk tanaman budidaya (bawang merah) ternyata lebih peka terhadap hormon alelopati ini, dimana dengan kadar ekstrak 20% (kadar fenol 0,46255%) saja telah dapat mematikan tanaman budidaya ini. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa alelopati pada rimpang alang-alang dapat dimanfaatkan sebagai herbisida organik pengendali gulma teki.

http://fp.uns.ac.id/~hamasains/dasarperlintan-4.htm

http://sman1boja.sch.id/content/view/45/87/

Anonim mengatakan...

Nama : MOH. JEFRI HIDAYAT
NIM : 08330105
Kelas : BIOLOGI 3B

Bisa karena rumput teki (Cyperus rotundus) mempunyai toksik senyawa kimia berupa alelokimia yang dapat menghambat dan menghalangi tumbuhnya organisme (tumbuhan) lain. Alelokimia ini merupakan metabolit sekunder yang dikelompokkan menjadi 14 golongan, yaitu asam organik larut air, lakton, asam lemak rantai panjang, quinon, terpenoid, flavonoid, tanin, asam sinamat dan derivatnya, asam benzoat dan derivatnya, kumarin, fenol dan asam fenolat, asam amino nonprotein, sulfida serta nukleosida, Alelokimia pada tumbuhan dilepas ke lingkungan dan mencapai organisme sasaran melalui penguapan, eksudasi akar, pelindian, dan atau dekomposisi. Dampak yang dihasilkan dari alelokimia ini adalah terganggunya pembelahan dan pembesaran sel yang akhirnya menghambat pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan sasaran. Jadi secara tidak langsung rumput teki (Cyperus rotundus) dapat mempengruhi pertumbuhan tumbuhan lainnya yang ada disekitarnya, termasuk gulma. Sehingga rumput teki (Cyperus rotundus) sangat berpotensi untuk dijadikan sebagai alternative herbisida baru.
Cara penggunaannya sebenarnya ada 2 macam yaitu :
1.Dengan cara membiarkan rumput teki atau malah menanami rumput teki disekitar tanaman yang dibudidayakan. Dengan syarat tepat jumlah artinya tidak terlalu banyak ataupun terlalu dekat dengan tanaman budidaya karena takut mempengaruhi tanaman budidaya tersebut.
2.Dengan membuat ekstrak rumput teki yang kemudian disiramkan pada gulma yang ada disekitar tumbuhan budidaya, ekstrak rumput laut dapat dibuat dengan cara:
Menyiapkan rumput teki yang akan dibuat ekstrak secukupnya,
Menumbuk rumput teki sampai halus
Mencampurkan air pada tumbukan runput teki tadi dengan perbandingan yang sama (1:1)
Panaskan hinggi volume 10% kemudian
Saring dengan kertas saring sambil memerasnya
Maka jadilah ekstrak rumput teki (herbisida baru) yang siap digunakan.
Selamat mencoba.........!!!!!!!!!

JAWABAN INI DIAMBIL DAN DIANALISIS DARI :
Einhellig FA. 1995a. Allelopathy: Current status and future goals. Dalam Inderjit, Dakhsini KMM, Einhellig FA (Eds). Allelopathy. Organism, Processes and Applications. Washington DC: American Chemical Society. Hal. 1 – 24.
Rice EL. 1984. Allelopathy. Second Edition. Orlando FL: Academic Press.

Anonim mengatakan...

Nama : SUPRAPTO
NIM : 08330098
Kelas : BIOLOGI 3B

Bisa, karena rumput teki mempunyai alelopat yang dapat merugikan pertumbuhan tumbuhan lain jenis yang tumbuh di sekitarnya termasuk gulma. Alelopat itu dapat berupa gas atau zat cair dan dapat keluar dari akar, batang maupun daun. Hambatan pertumbuhan akibat adanya alelopat dalam peristiwa alelopati, misalnya hambatan pembelahan sel, pengambilan mineral, respirasi, penutupan stomata, sintesis protein, dan lain-lainnya. Zat-zat tersebut keluar dari bagian atas tanah berupa gas, atau eksudat dari akar. Jenis zat yang dikeluarkan pada umumnya berasal dari golongan fenolat, terpenoid dan alkaloid. Jadi sangat memungkinkan sekali rumput teki untuk dijadinkan sebagai herbisida baru.
Dan cara membuat herbisida dari rumput teki adalah :
Mengambil rumput teki lalu ditimbang secukupnya sesuai dengan kebutuhan
Menghaluskan rumput teki dengan cara ditumbuk ataupun diblender
Rumput teki yang sudah ditumbuk/diblender tadi dicampur dengan aquades
Kemudian saring dan peras dengan menggunakan kertas saring

Sumber: (http://ishakregar.wordpress.com/artikel/)

Anonim mengatakan...

Nama : Hendri Yanto
NIM : 08330088
Kelas : Biologi IIIB

Rumput teki (Cyperus rotundus) dapat digunakan sebagai herbisida (Pembasmi gulma) karena rumput teki (Cyperus rotundus) memiliki kandungan kimia yang tinggi salah satu contohnya yaitu allelopati. Allelopati dapat ditemukan pada daun, batang, akar, rhizoma, bunga, buah, dan biji dan dapat terlepas dari jaringan tumbuhan melalui berbagai cara yaitu melalui penguapan, eksudat akar, pencucian, dan pembusukan bagian-bagian organ yang mati (Rohman, 2001).
Senyawa yang terkandung dalam allelopati biasanya disebut alelokimia. Organ pembentuk dan jenis alelokimia bersifat spesifik pada setiap spesies. Selain itu alelokimia merupakan metabolit sekunder yang dikelompokkan menjadi 14 golongan, yaitu asam organik larut air, lakton, asam lemak rantai panjang, quinon, terpenoid, flavonoid, tanin, asam sinamat dan derivatnya, asam benzoat dan derivatnya, kumarin, fenol dan asam fenolat, asam amino nonprotein, sulfida serta nukleosida (Rice, 1984).
Setiap jenis alelokimia dilepas dengan mekanisme tertentu tergantung pada organ pembentuknya dan bentuk atau sifat kimianya. Mekanisme pengaruh alelokimia (khususnya yang menghambat) terhadap pertumbuhan dan perkembangan organisme (khususnya tumbuhan) sasaran melalui serangkaian proses yang cukup kompleks, namun menurut Einhellig (1995) proses tersebut diawali di membran plasma dengan terjadinya kekacauan struktur, modifikasi saluran membran, atau hilangnya fungsi enzim ATP-ase. Hal ini akan berpengaruh terhadap penyerapan dan konsentrasi ion dan air yang kemudian mempengaruhi pembukaan stomata dan proses fotosintesis. Hambatan berikutnya mungkin terjadi dalam proses sintesis protein, pigmen dan senyawa karbon lain, serta aktivitas beberapa fitohormon. Sebagian atau seluruh hambatan tersebut kemudian bermuara pada terganggunya pembelahan dan pembesaran sel yang akhirnya menghambat pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan sasaran.
Cara pengaplikasiannya yaitu dengan cara membuat ekstrak dari rumput teki, dimana cara kerjanya adalah:
•Mencuci rumput teki dengan air mengalir bagian daun, akar dan batang.
•Menimbang 100 gr daun dan batang rumput teki
•Menumbuk sampai halus dengan mortal-martil
•Melarutkan dengan aquades 100 ml (artinya dengan perbandingan 1:1)
•Panaskan sampai volume 10% dan menyaring pakai kertas saring
Hasil dari ekstrak tadi dapat disemprotkan atau disiram pada tumbuhan yang tentunya dengan waktu yang cukup lama dan dilakukan berulang-ulang agar gulma yang ingin dihambat pertumbuhannya/dimatikan akan benar-benar mati.

Oleh sebab itu, dengan adanya senyawa allelokimia di dalam rumput teki (Cyperus rotundus) maka rumput teki dapat dibudidayakan sebagai alternatif pengganti herbisida untuk pembasmi gulma yang tentunya diproses dengan pengolahan yang sederhana, mudah dan ekonomis, sehingga para petani dapat menerapkannya dalam lingkungan masyarakat.

Daftar Pustaka
Einhellig FA. 1995a. Allelopathy: Current status and future goals. Dalam Inderjit, Dakhsini KMM, Einhellig FA (Eds). Allelopathy. Organism, Processes and Applications. Washington DC: American Chemical Society. Hal. 1 – 24.
Rice EL. 1984. Allelopathy. Second Edition. Orlando FL: Academic Press.

Anonim mengatakan...

widya sri rahayu
08330103
biologi 3B


rumput teki dapat dimafaatkan sebagai herbisida, karena tanaman yang menghasilkan alelokimia, pengaruh alelokimia bersifat selektif, yaitu berpengaruh terhadap jenis organisme tertentu namun tidak terhadap organisme lain. (nandito, 2009). zat alelopati dapat dikeluarkan melalui pencucian dan dapat menghasilkan senyawa asam-asam organik, asam-asam amino, pektat, giberelin, terpenoid dan fenol. Kelompok teki – tekian memiliki daya tahan luar biasa terhadap pengendalian mekanis, karena memiliki umbu batang di dalam tanah yang mampu bertahan berbulan – bulan. Contohnya adalah teki ladang (Cyperus rotundus). senyawa alelopati berpengaruh terhadap beberapa hal diantaranya: menghambat pembelahan sel, menghambat pertumbuhan, menghambat pembusukan biji dan perkecambahan dll. Dan rumput teki dapat dijadikan herbisida dengan memberikan ekstak hasil pencucian rumput teki di sekitar tanaman yang mengganggu pertumbuhannya (irwan,1992).
sumber:
- http://nandito106.wordpress.com/
irwan, zoer'aini djamal. 1992.ekosistem komunitas dan lingkungan.bumi aksara. jakarta.

Anonim mengatakan...

nama : santi eka ratnawati
nim : 08330072 / 3B

Dapat,karena alelopati sering dianggap zat perusak bagi tanaman lain yang tumbuh disekitarnya. Alelopati merupakan efek yang merusak bagi pelepasan senyawa-senyawa kimia organik oleh suatu jenis tanaman tertentu. Alelopati selalu dikaitkan dengan masalah gangguan yang ditimbulkan gulma yang tumbuh bersama-sama dengan tanaman pangan. Beberapa fitotoksin yang menyebabkan alelopati adalah : asam-asam fenolik, aldehid-salisildehid, benzaldehid, vanilin, koumarin, ekskuletin, skopoletin, glukosida, forigin, terpen, kamfer, dan sineat. Senyawa-senyawa kimia yang mempunyai potensi alelopati dapat ditemukan di semua jaringan tumbuhan termasuk daun, batang, akar, rizoma, umbi, bunga, buah dan biji.
Cara penggunaan alelopati yaitu dengan melepaskan senyawa-senyawa dari jaringan tumbuhan dengan menggunakan beberapa cara diantaranya:
1.penguapan
2.eskudat akar
3.pencucian
4.pembusukan organ tumbuhan.
proses tersebut merupakan pengaruh proses yang merugikan tumbuhan hal itu disebabkan oleh senyawa-senyawa kimia yang dihasilkan tumbuhan lain ke lingkungannya. Beberapa pengaruhnya yaitu: menghambat penyerapan hara, menghambat pembelahan sel-sel akar tumbuhan, menghambat pertumbuhan yaitu mempengaruhi pembesaran sel tumbuhan, menghambat respirasi akar, menghambat sintesis protein, menurunkan daya permeabilitas membran pada sel tumbuhan, serta menghambat aktivitas enzim.
Berdasarkan pengaruhnya terhadap tumbuhan zat-zat kimia atau bahan organik yang bersifat alelopati dapat dibedakan menjadi dua yaitu:
a. autotoxid, yaitu zat kimia bersifat alelopati dari suatu tumbuhan yang dapat menghambat atau mematikan individu lain yang sama jenisnya.
b. antitoxic, yaitu zat kimia bersifat alelopati dari suatu tumbuhan yang dapat menghambat atau mematikan tumbuhan lain yang berbeda jenisnya,

sumber :
Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan. Bumi Aksara. Jakarta.
Soerianegara, I. dan A. Indrawan. 1982. Ekologi Hutan Indonesia. Departemen Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Boogor. Bogor.
Soegianto, A. 1994. Ekologi Kuantitatif: Metode Analisis Populasi dan Komunitas. Penerbit Usaha Nasional. Jakarta.
Sidiyasa, K.D., Zakaria, Iwan, R. 2006. Keanekaragaman Hayati. CIFOR. Jakarta.
Soemarwoto, O. 1994. Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Djambatan. Jakarta.

Anonim mengatakan...

ELLA NUR AZIZA
08330102
BIOLOGI 3B
Rumput teki dapat digunakan sebagai pengganti herbisida karena rumput teki mengandung zat allelopaty.Allelopathy yaitu pengeluaran senyawa kimiawi oleh gulma yang beracun bagi tanaman yang lainnya, sehingga merusak pertumbuhannya. Tidak semua gulma mengeluarkan senyawa beracun. Spesies gulma yang diketahui mengeluarkan senyawa racun adalah alang-alang (Imperata cylinarica), grinting (Cynodon dactylon), teki (Cyperus rotundus), Agropyron intermedium, Salvia lenocophyela dan lain-lain.teki (Cyperus rotundus) yang masih hidup mengeluarkan senyawa alelopati lewat organ di bawah tanah, jika sudah mati baik organ yang berada di atas tanah maupun yang di bawah tanah sama-sama dapat melepaskan senyawa alelopati.Sutarto (1990) memperlihatkan bahwa tekanan ekstrak teki segar 200 dan 300 g/250 ml air menyebabkan pertumbuhan tanaman kacang tanah menjadi kerdil dan kurus, serta potensi hasilnya menurun.(http://fp.uns.ac.id/~hamasains/dasarperlintan-4.htm).dARI DATA TERSEBUT DAPAT DISIMPULKAN BAHWA RUMPUT TEKI DAPAT DIGUNAKAN HERBISIDA PENGGANTI ALAMI KARENA DAPAT MENGANGGU PERTUMBUHAN GULMA DISEKITAR TANAMAN BUDIDAYA.Cara penngunaan : rumput teki dicuci,kemudian dipotong keci kecil dan dihaluskan.rumput teki yg sudah halus direbus untuk ndiambil ekstrak allelopatinya(tiap 100 gram rumput teki direbus dengan air 100 ml sampai tersisa 50 ml).Ekstrak rumput teki digunakan untuk manyiram tanah disekitar tanaman tapi tidak mengenai tanaman yg dibudidayakan agar gulma terhambat pertumbuhannya dan mati tapi tidak merusak tanaman budidaya.
Dapus : Fitter dan R.K.M. Hay.1990.Fisiologi Lingkungan Tanamn.UGM Press.Yogyakarta.
(http://fp.uns.ac.id/~hamasains/dasarperlintan-4.htm)

Anonim mengatakan...

NAMA : RAFIQATUL BADRIYAH
NIM : 08330081
KELAS : BIOLOGI 3- B


Bisa, karena kandungan kimia akar rumput teki mengandung senyawa alkaloid dan glikosida flavonoid. Pengendalian gulma dengan menggunakan rumput teki disebut pengendalian hayati. Herbisida hayati adalah pemanfaatan setiap organisme yang berbeda dengan spesies tumbuhan sasaran seperti gulma untuk mengurangi pertumbuhan gulma dan reproduksinya. Penanganan terhadap gulma adalah dengan membuat bioherbisida, yaitu pembasmi rumput yang bersumber dari makhluk hidup.

Sumber :
http://fp.uns.ac.id/~hamasains/dasarperlintan-4.htm
http://sman1boja.sch.id/content/view/45/87/


Cara yang digunakan adalah dengan membuat ekstrak atau dekok rumput teki yang berupa cairan, karena cara ini mempunyai keunggulan yang lebih dibandingkan bentuk formulasi yang lain. Selain itu cara memasukan kedalam tanam juga mudah (melalui daun, akar, atau batang) sangat menentukan keberhasilan pengendalian gulma. Pemberian aleopati yang melalui akar dilakukan dengan bersamaan dengan waktu penanaman benih sedangkan aplikasi melalui tajuk gulma diberi pada hari kelima, sepuluh, dan lima belas setelah tanam. Aplikasi melalui akar dilakukan dengan menambahkan 1 ml ekstra formulasi pada tempat benih, sedangkan aplikasi melalui tajuk dilakukan dengan cara menyemprotkan tajuk dengan menggunakan “hand sprayer’” hingga seluruh tajuk basah. Selanjutnya untuk menjaga kelembabapan media dilakuakan dengan cara menambahkan air pada media tanam.

Sumber :
http://bdpunib.org/jipi/artikeljipi/2001/16.PDF

Anonim mengatakan...

Nama : ROHANI
Nim : 07330007
Smster/Klas : V/A

Rumput teki (Cyperus rotundus)memiliki zat allelopati.
Alelopati adalah interaksi biokimia antara mikroorganisme
atau tanaman baik yang bersifat positif atau negatif dan
alelopati juga merupakan suatu peristiwa dimana
suatu individu tumbuhan yang menghasilkan zat kimia
dan dapat menghambat pertumbuhan
jenis yang lain yang tumbuh bersaing dengan tumbuhan
tersebut Senyawa alelopati ada yang dilepaskan
melalui penguapan.
Kandungan dari akar teki sendiri adalah
Akar teki mengandung alkaloid, glikosida jantung,
flavonoid dan minyak menguap sebanyak 0,3-1% yang isinya bervariasi,
tergantung daerah asal tumbuhnya (diakses
http://www.asiamaya.com/jamu/isi/teki_cyperusrotundus.htm)

Selain hama dan penyakit yang menyerang tumbuhan
dan merugikan petani, gulma juga perlu mendapat
perhatian khusus. Pada petani kadang kurang
memperhatikan gulma sehingga dalam kurun waktu
tertentu populasi gulma sudah melebihi batas.
Gulma – gulma ini akan berkompetisi dengan tanaman
utama dalam mendapatkan unsur hara yang diperlukan pertumbuhannya. Gulma dapat menjadi tempat persembunyian hama. Pembersihan gulma sangat penting untuk menekan perkembangan hama yang dapat menyerang tumbuhan.

Pengendalian gulma memerlukan strategi yang khas untuk setiap kasus. Beberapa hal
yang perlu dipertimbangkan sebelum melakukan pengendalian gulma antara lain sebagai berikut :
a) Jenis gulma dominan
b) Tanaman budi daya utama
c) Alternatif pengendalian yang tersedia
d) Dampak ekonomi dan ekologi
Saat ini cukup banyak hebisida (pembasmi gulma)
yang tersedia di toko pertanian. Meskipun demikian, kita perlu hati – hati dalam memilih dan menggunakan herbisida. Memperhatikan cara pemakaian herbisida dengan benar sangatlah dianjurkan.
Tujuan
pembersihan gulma antara lain untuk mengurangi tumbuhan pengganggu yang akan menjadi pesain
tanaman utama. Selain itu juga karena gulma merupakan inang alternetif dan tempat persembunyian hama penyakit.

Sumber pustaka :

http://www.pdf-search-engine.com/pdf-tumbuhan-rumput- diakses tanggal 31 oktober 2009

http://www.asiamaya.com/jamu/isi/teki_cyperusrotundus.htm)
diakses tanggal 31 oktober 2009

Anonim mengatakan...

Nama: Citra Marina
Nim : 08330002
Kelas: 3 A

Ekstrak umbi teki berpotensi untuk dikembangkan sebagai bioherbisida. pada penelitian ini ekstrak umbi teki dicoba dicampur dengan bahan perekat dan perata untuk selanjutnya di evaluasi efikasinya terhadap gulma M. invisa dan M. corchorifolia.
penggunaan herbisida sintetik mempunyai dampak negatif terhadap lingkungan. oleh sebab itu perlu adanya alternatif pengendalian gulma yang ramah lingkungan. upaya tersebut dapat dilakukan dengan menggali potensi senyawa kimia yang berasal dari tumbuhan yang dapat di manfaatkan sebagai bioherbisida. salah satu tumbuhan yang bersifat alelopati adalah teki.
dari hasil penelitian dapat di simpulkan bahwa ekstrak teki dapat menyebabkan klorosis pada daun gulma M. invisa dan M. corchorifolia., tetapi tidak mempengaruhi daya kecambah dan tidak menunjukkan konsistensi hambatan terhadap pertumbuhan dan perkembangan terhadap kedua jenis gulma tersebut.
(http://www.google.co.id/#q=ekstrak+teki+sebagai+bioherbisida&hl=id&sa=2&fp=19092503560bfe6e)
Merupakan Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Indonesia Vol 3 No. 1, 2001 hal 16-24

Anonim mengatakan...

Nama : Enggar Agustiana M.
Nim : 08330057
Kls : Biologi 3B

jawaban
Dapat, karena rumput teki mempunyai zat alelopati yang mengakibatkan pertumbuhan suatu tanaman terhambat.
alelopati adalah peristuwa suatu tumbuhan mengeluarkan senyawa beracun ke lingkungan sekitarnya dan dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan tumbuhan yang ada di dekatnya. Interaksi biokimiawi antara gulma dan pertanamanan antara lain menyebabkan gangguan perkecambahan biji, kecambah jadi abnormal, pertumbuhan memanjang akar terhambat, perubahan susunan sel-sel akar dan lain sebagainya. Zat alelopat dapat ditemukan di semua jaringan tumbuhan termasuk daun, batang, akar, rizoma, umbi, bunga, buah, dan biji. Senyawa-senyawa alelopati dapat dilepaskan dari jaringan-jaringan tumbuhan dalam berbagai cara termasuk melalui penguapan,eksudat akar, pencucian, dan pembusukan organ tumbuhan.
rumput teki mengeluarkan zat alelopatnya melalui eksudet akar. senyawa kimia yang dapat dilepaskan oleh akar tumbuhan (eksudat akar)yakni alkaloid, glikosida flavonoid yang dapat menghambat penyerapan air dan hara pada akar. senyawa yang dikeluarkan oleh rumput teki juga dapat menghambat pertumbuhan sel, sintesa pritein dan kerja enzim pada tanaman lain. hal ini yang menjadi patokan kenapa rumput teki dapat dijadikan herbisida alami.

berikut adalah cara untuk mendapatkan ekstrak teki yang digunakan sebagai herbisida alami:
1. mencuci dengan air batang dan
daun rumput teki
2. menimbang 100 gr daun dan
batang rumpu teki
3. menumbuk hungga halus
4. menambahkan dengan aquades 100
ml
5. memanaskan hingga volume 50%
6. menyaring dengan kertas saring
7. mendinginkan sebelum disiramkan
pada tanaman
ekstrak tersebut dapat digunakan sebagai herbisida untuk menghambat pertumbuhan tanaman lain atau gulma.

sumber:
http://www.tambur.dikti.net/?p=223

http://fp.uns.ac.id/~hamasains/dasarperlintan-4.htm

http://iqbalali.com/2008/01/23/alelopati/

Anonim mengatakan...

Nama : Eva yuliana
Nim : 08330055
Kelas : biologi 3b

ALLELOPATI
Tumbuhan juga dapat bersaing antar sesamanya secara interaksi biokimiawi, yaitu salah satu tumbuhan mengeluarkan senyawa beracun ke lingkungan sekitarnya dan dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan tumbuhan yang ada di dekatnya. Interaksi biokimiawi antara gulma dan pertanamanan antara lain menyebabkan gangguan perkecambahan biji, kecambah jadi abnormal, pertumbuhan memanjang akar terhambat, perubahan susunan sel-sel akar dan lain sebagainya.
Beberapa species gulma menyaingi pertanaman dengan mengeluarkan senyawa beracun dari akarnya (root exudates atau lechates) atau dari pembusukan bagian vegetatifnya. Persaingan yang timbul akibat dikeluarkannya zat yang meracuni tumbuhan lain disebut alelopati dan zat kimianya disebut alelopat. Umumnya senyawa yang dikeluarkan adalah dari golongan fenol.Tidak semua gulma mengeluarkan senyawa beracun. Spesies gulma yang diketahui mengeluarkan senyawa racun adalah alang-alang (Imperata cylinarica), grinting (Cynodon dactylon), teki (Cyperus rotundus), Agropyron intermedium, Salvia lenocophyela dan lain-lain.
Alang-alang menghambat pertumbuhan tanaman jagung dan ini telah dibuktikan dengan menggunakan percobaan pot-pot bertingkat di rumah kaca di Bogor. Mengingat unsur hara, air dan cahaya bukan merupakan pembatas utama, maka diduga bahwa alang-alang merupakan senyawa beracun yang dapat mempengaruhi pertumbuhan jagung. Tumbuhan yang telah mati dan sisa-sisa tumbuhan yang dibenamkan ke dalam tanah juga dapat menghambat pertumbuhan jagung. Lamid dkk. (1994) memperlihatkan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstraks organ tubuh alang-alang, semakin besar pengaruh negatifnya terhadap pertumbuhan kecambah padi gogo.
Penelitian semacam ini juga telah banyak dilakukan misalnya pada teki (Cyperus rotundus). Pengaruh teki terhadap pertumbuhan jagung, kedelai dan kacang tanah juga telah dipelajari dengan metode tidak langsung. Ekstrak umbi dari teki dalam berbagai konsentrasi telah digunakan dalam percobaan. Sutarto (1990) memperlihatkan bahwa tekanan ekstrak teki segar 200 dan 300 g/250 ml air menyebabkan pertumbuhan tanaman kacang tanah menjadi kerdil dan kurus, serta potensi hasilnya menurun (http://sulmaidi-ua.blogspot.com/2009/04/gulma.html).
Sesuai data di atas dimungkinkan bahwa rumput teki (Cyperus rotundus) dapat digunakan sebagai herbisida (pembasmi gulma) biosintetik, sesuai dengan kandungan zat alelopati yang dimilikinya.
Cara membuat herbisida dari rumput teki yaitu melalui pembuatan “Dekok” yaitu:
1. Mencuci dan membersihkan 100 gram akar rimpang dari rumput reki (Cyperus rotundus).
2. Memotong dan menghaluskan dengan menggunakan mortal martil.
3. Mencampur dengan aquades 500 ml.
4. Memanaskan hingga diperoleh filtrat sebanyak 50%
5. Menyaring filtrat menggunakan kertas saring.
6. Menyemprotkan filtrat pada tanaman yang ingin di musnahkan.
Selain cara diatas,rumput teki dapat ditanam disekitar tanaman gulma lain dengan kuantitas yang lebih agar dapat menghambat pertumbuhan gulma yang tidak diinginkan.

Anonim mengatakan...

Nama :alfiana Kusuma Putri
Nim : 08330066 ?biologi 3B
Herbisida merupakan semua zat kimia yang digunakan untuk memberantas tumbuhan pengganggu. Sejak tahun 1960-an herbisida kimiawi telah digunakan hampir di seluruh dunia. Penggunaan herbisida sejauh ini memberikan dampak positif berupa pengendalian gulma dan peningkatan produk-si pertanian dan perkebunan. Namun di lain pihak, penggunaan herbisida secara terus menerus selama 30 tahun terakhir ini juga berakibat negatif bagi lingkungan (Sivan dan Chet, 1992). Terjadinya keracunan pada organisme nontarget, polusi sumber-sumber air dan kerusakan tanah, juga keracunan akibat residu herbisida pada produk pertanian, merupakan contoh dampak negatif penggunaan herbisida kimiawi( Indira dan Untung,2008). .
Senyawa alelopati yang terdapat dalam rumput teki (Cyperus rotundus) dapat digunakan sebagai bioherbisida zat alelopati dalam rumput teki (Cyperus rotundus) bersifat plavonoid dan alkaloid. kedua zat ini dapat digunakan sebagai bioherbisida dengan cara membiarkan rumput teki (Cyperus rotundus) tumbuh bebas disekitar tanaman gulma yang ingin dihancurkan. Ekstra umbi teki terbukti mampu menghambat perkecambahan dan pertumbuhan kecambah dari gulma. Rendaman umbi teki dapat menghambat perkecambahan umbi gandum bahkan dilaporkan dapat pula menghambat perpanjangan akar(Nanik,2001)
Cara membuat herbisida dari rumput teki yaitu dengan mengekstrak rumput teki:
1.Rumput teki yang masih segar digiling dan ditimbang, yang kemudian dilakukan ekstraksi. Ekstraksi paling baik dilakukan dalam dua tahap : pertama kali dengan MeOH : H2O (9:1) dan kedua kali dengan MeOH : H2O (1:1).
2.Pada setiap tahap, aquadest ditambahkan secukupnya sehingga terbentuk ekstrak teki.
3.Lalu ekstrak dibiarkan sampai 6 – 12 jam.
4.Kedua ekstrak kemudian disatukan dan diuapkan sehingga volumenya menjadi 1/3 volume asal, atau sampai semua MeOH menguap.
5.Lalu, ekstrak- air yang diperoleh dapat dibebaskan dari senyawa yang kepolaranya rendah seperti lemak, terpena, klorofil, xantofil, dan lain- lain dengan ekstraksi (dalam corong pisah) dengan heksana auat rkloroform. Ekstraksi dilakukan beberapa kali dan ekstrak kemudian disatukan.
6.Lapisan air yang telah diekstraksi dengan pelarut dan mengandung bagian terbesar flavonoid lalu diuapkan sampai kering pada tekanan rendah dengan mengunakan penguap putar atau rotary.
7.Ekstrak teki siap digunakan(di semprotkan) sebagai herbisida untuk membunuh gulma yang tumbuh di sekitar tanaman selain sorgum dan kedelai.

Daftar Pustaka :
>http://bdpunib.org/jipi/artikeljipi/2001/16.PDF .jurnal ilmu Pertaniaan Indonesia vol.3.01.nanik 2001
>http://anekaplanta.wordpress.com/2008/03/02/prospek-bioherbisida-sebagai-alternatif-penggunaan-herbisida-kimiawi/
>Moenandir, Dr.Ir. Jody. 1988. Pengantar Ilmu dan Pengendalian Gulma. Universitas Brawijaya Press. Malang.

Anonim mengatakan...

Nurjanah
08330091
Biologi 3B
Senyawa alelopati ada yang dilepaskan melalui penguapan. Beberapa genus tumbuhan yang melepaskan senyawa alelopati melalui penguapan adalah Artemisia, Eucalyptus, dan Salvia. Senyawa kimianya termasuk ke dalam golongan terpenoid. Senyawa ini dapat diserap oleh tumbuhan di sekitarnya dalam bentuk uap, bentuk embun, dan dapat pula masuk ke dalam tanah yang akan diserap akar.
Rohman dan I wayan Sumberartha (2001) menyebutkan bahwa senyawa-senyawa kimia tersebut dapat mempengaruhi tumbuhan yang lain melalui penyerapan unsur hara, penghambatan pembelahan sel,pertumbuhan, proses fotosintesis, proses respirasi, sintesis protein, dan proses-proses metabolisme yang lain. Lebih lanjut, Anonim (tanpa tahun) menjelaskan tentang pengaruh alelopati terhadap pertumbuhan tanaman adalah sebagai berikut:

Senyawa alelopati dapat menghambat penyerapan hara yaitu dengan menurunkan kecepatan penyerapan ion-ion oleh tumbuhan.
Senyawa alelopati dapat menghambat aktivitas enzim.

Tumbuhan yang bersifat sebagai alelopat mempunyai kemampuan bersaing yang lebih hebat sehingga pertumbuhan tanaman pokok lebih terhambat, dan hasilnya semakin menurun (Anonim, tanpa tahun). Namun kuantitas dan kualitas senyawa alelopati yang dikeluarkan oleh tumbuhan dapat dipengaruhi oleh kerapatan tumbuhan alelopat, macam tumbuhan alelopat, saat kemunculan saat kemunculan tumbuhan alelopat, lama keberadaan tumbuhan alelopat, habitus tumbuhan alelopat, kecepatan tumbuh tumbuhan alelopat, dan jalur fotosintesis tumbuhan alelopat (C3 atau C4).(sumber: http://iqbalali.com/2008/01/23/alelopati/)
Alelopati merupakan interaksi antarpopulasi, bila populasi yang satu menghasilkan zat yang dapat menghalangi tumbuhnya populasi lain. Contohnya, di sekitar pohon walnut (juglans) jarang ditumbuhi tumbuhan lain karena tumbuhan ini menghasilkan zat yang bersifat toksik. Pada mikroorganisme istilah alelopati dikenal sebagai anabiosa atau antibiotisme. Contoh, jamur Penicillium sp. dapat menghasilkan antibiotika yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri tertentu.
Aplikasi : zat allelopati pada rumtut teki atau ilalang dapat mengkambat pertumbuhan suatu tamanan, yaitu dengan membuat dekok rumput teki
1. mencuci dengan air batang dan daun rumput teki
2. menimbang 100 gr daun dan batang rumpu teki
3. menumbuk dengan halus
3. mencampu dengan aquades 100 ml
memanaskan hingga volume 50%
menyaring dengan kertas saring
Dekok tersebut dapat digunakan sebagai herbisida untuk menghambat pertumbuhan gulma.
Bahan diskusi:
Dari analisis kualitatif kandungan ekstrak akar rumput teki (Cyperus rotundus), kandungan Cl akan menyebabkan tanah mengandung garam. Jika ekstrak rumput teki dijadikan biopestisida sebagai alternatif pengganti herbisida sintesis maka akan menyebabkan tumbuhan daerah sekitar pemberian ekstrak ini akan terpengaruhi pula. Misalnya pada tanaman padi (Oryza sativa).

DAFTAR PUSTAKA
-http://iqbalali.com/2008/01/23/alelopati/
-http://www.google.co.id/search?q=ekstra+rumput+teki&ie=utf-8&oe=utf-8&aq=t&rls=org.mozilla:en-US:official&client=firefox-a
-http://74.125.153.132/search?q=cache:XGK6Z54AcTkJ:lppm.unitomo.ac.id/%3Fp%3D32+ekstra+rumput+teki&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a
-Sumberartha.2001.http://iqbalali.com/2008/01/23/alelopati.

Anonim mengatakan...

Nama : IRA PUSPITA N
NIM : 08330099
Kelas : BIOLOGI 3B


Jawaban :

Rumput teki (Cyperus rotundus) dapat digunakan sebagai pembasmi gulma. Karena rumput teki memiliki zat alelopati. Alelopati yaitu interaksi antar populasi, bila populasi yang satu menghasilkan zat yang dapat menghalangi tumbuhnya populasi lain. Pada rumput teki dikatakan dapat digunakan sebagai pembasmi gulma karena akar teki mengandung alkaloid, glikosida flavonoid dan minyak menguap sebanyak 3-1% yang isinya bervariasi, tergantung daerah asal tumbuhnya. Akar yang berasal dari Jepang berisi cyperol, cyperene I & II, alfa-cyperone, cyperotundone dan cyperolone, sedangkan yang berasal dari China berisi patchoulenone dan cyperene (http://www.tambur.dikti.net/?p=223)
Menurut Rice (1984)interaksi yang meliputi penghambatan dan pemacuan secara langsung atau tidak langsung suatu senyawa kimia yang dibentuk oleh suatu organisme (tumbuhan, hewan, atau mikroba) terhadap pertumbuhan dan perkembangan organisme lain. Senyawa kimia yang berperan dalam mekanisme itu disebut alelokimia. Pengaryh alelokimia bersifat selektif, yaitu berpengaruh terhadap jenis organisme tertentu namun tidak terhadap organisme lain (Weston, 1996). Alelokimia pada tumbuhan dibentuk di berbagai organ, mungkin di akar, batang, daun, bunga, atau biji. Alelokimia pada tumbuhan di lepas pada lingkungan dan mencapai organisme sasaran melalui penguapan, eksudasi akar, pelindian, dan dekomposisi.
Cara yang digunakan untuk membuat herbisida rumput teki yaitu dengan cara membuat ekstrak dari rumput teki, yaitu :
1. Mencuci terlebih dahulu rumput teki
2. Menimbang rumput teki sebanyak 100 gr
3. Memotong rumput teki menjadi kecil-kecil kemudian di haluskan pada mortal martil sampai rumput teki halus
4. Memasukkan rumput teki yang sudah di haluskan pada beaker glass
5. Menambahkan aquades sebanyak (1 : 1) dengan berat rumput teki, jadi menambahkan aquades sebanyak 100 ml
6. Campuran rumput teki dan aquades kemudian di panaskan pada hotplate sampai mendidih dan sampai volume 10 %
7. Kemudian menyaring menggunakan kertas saring
8. Kemudian hasil ekstrak yang telah dibuat disiram pada tumbuhan yang tentunya dengan waktu yang cukup lama dan dilakukan berulang-ulang agar gulma yang ingin dihambat pertumbuhannya/dimatikan akan mati.

Anonim mengatakan...

Sri Rahayuningsih, 08330093, Biologi 3B. Rumput teki (Cyperus rotundus)memang bisa dijadikan sebagai bioherbisida (mengandung zat allopati). Dalam pengendaliannya rumput teki tersebut dapat membunuh atau mematikan pertumbuhan gulma. Kandungan Kimia rumput teki :
teki mengandung alkaloid, glikosida flavonoid dan minyak menguap sebanyak 3-1% yang isinya bervariasi, tergantung daerah asal tumbuhnya. Penghambatan dan pemacuan secara langsung atau tidak langsung suatu senyawa kimia yang dibentuk oleh suatu organisme (tumbuhan, hewan atau mikrobia) terhadap pertumbuhan dan perkembangan organisme lain. Senyawa kimia yang berperan dalam mekanisme itu disebut alelokimia. Pengaruh alelokimia bersifat selektif dan ini terjadi pada rumput teki, yaitu berpengaruh terhadap jenis organisme tertentu namun tidak terhadap organisme lain. demikian dengan rumput teki,alelokimia pada rumput teki dibentuk di berbagai organ, mungkin di akar, batang, daun, bunga dan atau biji. Organ pembentuk dan jenis alelokimia bersifat spesifik pada setiap spesies. Alelopati tentunya menguntungkan bagi spesies yang menghasilkannya, namun merugikan bagi tumbuhan sasaran. Oleh karena itu,rumput teki menghasilkan alelokimia umumnya mendominasi daerah-daerah tertentu, sehingga populasi hunian umumnya adalah populasi jenis tumbuhan penghasil alelokimia.senyawa-senyawa kimia yang terkandung dapat mempengaruhi tumbuhan yang lain melalui penyerapan unsur hara, penghambatan pembelahan sel,pertumbuhan, proses fotosintesis, proses respirasi, sintesis protein, dan proses-proses metabolisme yang lain. Lebih lanjut, Senyawa alelopati dapat menghambat penyerapan hara yaitu dengan menurunkan kecepatan penyerapan ion-ion oleh tumbuhan.
Contoh gulma kelompok ini adalah alang-alang (Imperata cylindrica).
Aplikasi : zat allelopati pada rumtut teki atau ilalang dapat mengkambat pertumbuhan suatu tanaman, yaitu dengan membuat dekok rumput teki
1. mencuci dengan air batang dan daun rumput teki
2. menimbang daun dan batang rumput teki
3. menumbuk dengan halus
3. mencampu dengan aquades
memanaskan hingga volume 50%
menyaring dengan kertas saring
Dekok tersebut dapat digunakan sebagai herbisida untuk menghambat pertumbuhan gulma.
saya menambahkan sedikit, cara ini sudah digunakan banyak para petani sayur dearah Bedugul,Sigaraja-Bali. sebagai pengganti pembasmi hama dari bahan kimia.

Jawaban dianalisi dari sumber:
http://www.tambur.dikti.net/?p=223.
Utomo, I.H., P. Lontoh, Rosilawati dan Handayaningsing. 1986. Kompetisi teki (Cyperus rotundus L ) dan gelang (Portulaca oleraceae) dengan tanaman hortikultura. Prosiding Konfrensi VIII HIGI. Bandung.
http://awangmaharijaya.wordpress.com/2008/03/04/hidup-di-negara-yang-bercekaman-tinggi/
http://nandito106.wordpress.com/2009/03/02/alelopati-interaksi-antarpopulasi/

Anonim mengatakan...

afdfdtefgwyhgvww

Anonim mengatakan...

NAma :Widya Tri Lestari,,Nim:08330084 Kelas:3B
Dapat...
kebutuhan herbisida utk mengendalikan gulma terus meningkat dlm beberapa tahun ini. penggunaan pestisida sintetik mempunyai dampak negaif maka perlu adanya pengendalian gulma yg ramah lingkungan, upaya tsb dapat dilalkukan dg menggali potensi senyawa kimia yg berasal dari teki yg bersifat alelopati. maka pengguankan ekstrak teki yg ditambah carrier dlm pengendalian gulma belum banyak dilakukan. tetapi tdk menggangu daya perkecambahan dan tidak menghambat pertumbuhan maupun perkembangan tanaman yg ada disekitarnya (Kloppenburg-Versteegh, J. 1988. Petunjuk lengkap mengenai tanaman-tanaman di Indonesia Jilid 1: bagian Botani. Yogyakarta)
Rumput teki merupakan rumput semu menahun, tingginya 10-95 cm. Batang rumputnya berbentuk segitiga dan tajam. Daunnya berjumlah 4-10 helai yang terkumpul pada pangkal batang. Akar dengan pelepah daunnya tertutup tanah. Helaian daun berbentuk pita bersilang sejajar. Permukaan atas berwarna hijau mengilat dengan panjang daun 10-30 cm dan lebar 3-6 cm.
Tanaman ini tumbuh liar di tempat terbuka atau sedikit terlindung dari sinar matahari, seperti di tanah kosong, tegalan, lapangan rumput, pinggir jalan, atau di lahan pertanian, dan tumbuh sebagai gulma yang susah diberantas.http://obatherbal.wordpress.com/2009/05/28/rumput-teki- /
Uraian tanaman:
Akar teki atau Rumput palsu (batang segitiga) hidup sepanjang tahun dengan ketinggian mencapai 10 sampai 75 cm. Biasanya tanaman liar ini tumbuh di kebun, di ladang dan di tempat lain sampai pada ketinggian 1000 m dari permukaan laut. Tanaman ini mudah dikenali karena bunga-bunganya berwarna hijau kecoklatan, terletak di ujung tangkai dengan tiga tunas helm benang sari berwarna kuning jernih, membentuk bunga-bunga berbulir, mengelompok menjadi satu berupa payung. Ciri khasnya terletak pada buah-buahnya yang berbentuk kerucut besar pada pangkalnya, kadang-kadang melekuk berwarna coklat, dengan panjang 1,5 - 4,5 cm dengan diameter 5 - 10 mm. Daunnya berbentuk pita, berwarna mengkilat dan terdiri dari 4-10 helai, terdapat pada pangkal batang membentuk rozel akar, dengan pelepah daun tertutup tanah.Pada rimpangnya yang sudah tua terdapat banyak tunas yang menjadi umbi berwarna coklat atau hitam. Rasanya sepat kepahit-pahitan dan baunya wangi. Umbi-umbi ini biasanya mengumpul berupa rumpun.
Kandungan Kimia:
Akar teki mengandung alkaloid, glikosida jantung, flavonoid dan minyak menguap sebanyak 0,3-1% yang isinya bervariasi, tergantung daerah asal tumbuhnya. Akar yang berasal dari Jepang berisi cyperol, cyperene I & II, alfa-cyperone, cyperotundone dan cyperolone, sedangkan yang berasal dari China berisi patchoulenone dan cyperene.

Anonim mengatakan...

lanjutan
widya tri lestari
08330084
Kegunaan :
Biasanya bagian yang di pakai sebagai obat adalah umbinya (rimpang). Kegunaannya antara lain sebagai obat kuat, obat sakit perut, obat untuk memperlancar kencing, obat cacingan, obat peluruh serta pengatur haid, sebagai air pencuci anti keringat, dalam bentuk air rebusan sebagai obat untuk penyakit mulut (obat kumuran), obat sakit gigi (akar tongkat dimamah atau sebagai bubuk), dan untuk obat borok. Di daerah Jawa, Akar Teki digunakan sebagai obat kecut (anti kejang) terhadap sakit rnencret. Minyak terbang yang terdapat pada tumbuhan ini dapat menghindarkan pertumbuhan Staphy / Iococcus sureus, tetapi beberapa organisme Iainnya tidak dapat dicegah pertumbuhannya dengan obat ini.
http://www.asiamaya.com/jamu/isi/teki_cyperusrotundus.htm
Senyawa-senyawa kimia yang mempunyai potensi alelopati dapat ditemukan di semua jaringan tumbuhan termasuk daun, batang, akar, rizoma, umbi, bunga, buah, dan biji. Senyawa-senyawa alelopati dapat dilepaskan dari jaringan-jaringan tumbuhan dalam berbagai cara termasuk melalui :
a)Penguapan
b)pencucian
c)Eksudat akar
d)Pembusukan organ tumbuhan
senyawa alelopati dapat menghambat penuyerapan hara yaitu dengan mnurunkan kecepatan penyerapan ion-ion oleh tumbuhan.bberapa alelopati menghambat pmbelahan sel-sel akar tumbuhan yaitu dengan mempengaruhi pembesaran sel tumbuhan senyawa alelopati memberikan pengaruh penhambat sintesis proteinBuletin,alelopati adl interaksi biokimia antara mikroorganisme yg bersifat positip maupun negatif(BuletinAgronomi, 21 (2) 1993: 59-63. Jakarta, Februari 2000)
Gulma adalah tumbuhan yang kehadirannya tidak diinginkan pada lahan pertanian karena menurunkan hasil yang bisa dicapai oleh tanaman produksi.
Batasan gulma bersifat teknis dan plastis. Teknis, karena berkait dengan proses produksi suatu tanaman pertanian. Keberadaan gulma menurunkan hasil karena mengganggu pertumbuhan tanaman produksi melalui kompetisi. Plastis, karena batasan ini tidak mengikat suatu spesies tumbuhan. Pada tingkat tertentu, tanaman berguna dapat menjadi gulma. Sebaliknya, tumbuhan yang biasanya dianggap gulma dapat pula dianggap tidak mengganggu. Contoh, kedelai yang tumbuh di sela-sela pertanaman monokultur jagung dapat dianggap sebagai gulma, namun pada sistem tumpang sari keduanya merupakan tanaman utama. Meskipun demikian, beberapa jenis tumbuhan dikenal sebagai gulma utama, seperti teki dan alang-alang (http://id.wikipedia.org/wiki/Gulma)
cara penggunaan:
umbi rumput segar diblender,dg pelarut aquades, disentrifuse dan supernatanya ditambah "carrier" alkilaril poligicol eter utk mendapatkan bentukl formulasi cairan. dan telah di ujikan di dalam bentuk jurnal yg bernama NANIK SETYOWATI DAN EKO SUPRIJONO DLM PROGRAM STUDI AGRONOMI, FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BENGKULU

Daftar pustaka
Kloppenburg-Versteegh, J. 1988. Petunjuk lengkap mengenai tanaman-tanaman di Indonesia Jilid 1: bagian Botani. Yogyakarta
http://www.asiamaya.com/jamu/isi/teki_cyperusrotundus.htm
http://id.wikipedia.org/wiki/Gulma
BuletinAgronomi, 21 (2) 1993: 59-63. Jakarta, Februari 2000
http://obatherbal.wordpress.com/2009/05/28/rumput-teki- /

Anonim mengatakan...

Widya minta maap oz gk cukup tempatnya jd di cicil hehehe

Anonim mengatakan...

Nama : Neila Mustika Zein
Nim : 08330094
kls :Bio-3b

Jawaban Tugas ACC Mata Praktikum Ekologi Tumbuhan

1.Rumput teki (Cyperus rotundus ) Mempunyai kandungan alelopati yang tinggi selain itu memiliki kandungan kimia sebagai berikut: Akar teki mengandung alkaloid, glikosida flavonoid dan minyak menguap sebanyak 3-1% yang isinya bervariasi, tergantung daerah asal tumbuhnya. Akar yang berasal dari Jepang berisi cyperol, cyperene I & II, alfa-cyperone, cyperotundone dan cyperolone, sedangkan yang berasal dari China berisi patchoulenone dan cyperene. Dengan kata lain tumbuhan teki (Cyperus rotundus ) Dapat digunakan Sebagai Herbisida nabati. Hal ini juga dibuktikan dengan beberapa penelitian yang berpendapat bahwa:
“Alelopati adalah interaksi biokimia antara mikroorganisme atau tanaman baik yang bersifat positif maupun negatif ( Molisch, 1937 dalam putnam dan duke, 1978). pada metode Extraksi pada umbi teki terbukti mampu menghambat perkecambahan dan pertumbuhan kecambah beberapa species gulma berdaun lebar (Setyowati et al, 1998) dan juga dapat mematikan species gulma Mimosa pigra, mimosa invisia, Casia alata, dan poropylum rude rale. Pada penelitian selanjutnya dengan metode dekok(rendaman dengan cara direbus) umbi teki kering angin dapat menghambat perkecambahan benih gandum ( Triticum aesativum), cantel (Sorghum bicolor L), kacang-kacangan ( Phesoulus aureus Roxb) dan mustard (Brassica juncea L) (Lee-la, 1995). extrak umbi segar juga dilaporkan mampu menghambat panjang akar chickpea (Cicer arietinum L) (Saxena Dan Varshney, 1995)”.

Dari data penelitian yang telah dilakukan diatas dapat disimpulkan bahwa Ekstrak Umbi teki (Cyperus rotundus) ini berpotensi untuk dikembangkan sebagai bioherbisida yang aman bagi lingkungan dan dapat digunakan sebagai pencegah melebarnya pemanasan global.

Cara Pengunaan :
Sebelum rumput teki digunakan sebagai bioherbisida terlebih dahulu diproses dengan membuat sebuah ekstrak bioherbisida berbahan rumput teki dengan metode Ekstraksi. Pembuatan ekstraksi bertujuan mengisolasi bahan utama yang digunakan sebagai biohertbisida yakni senyawa alelopati. Pada umbi rumput teki direndam dengan pelarut organik contoh, etanol, alkhohol, eter, dll selanjutnya didestilasi (Proses pemisahan senyawa polar dan hasil ekstraksi) untuk mendapatkan senyawa alelopati. Jika isolasi senyawa didapatkan selajutnya dapat digunakan sebagai bioherbisida dengan cara menyemprotkan pada hama yang akan dibasmi.

Sumber literatur:
www.iccri.net/22-1-1-adi.pd dan http://www.google.co.id/search?as_q=SENYAWA+ALELOPATI&hl=id&num=10&btnG=Telusuri+dengan+Google&as_epq=&as_oq=&as_eq=&lr=&cr=&as_ft=i&as_filetype=pdf&as_qdr=all&as_occt=any&as_dt=i&as_sitesearch=&as_rights=

Anonim mengatakan...

NAMA : AHMAD BAYYUDH ATTAMIMI
NIM : 08330097
KELAS : BIOLOGI/3b

Penerapan Alelopati dalam Pertanian

Pada ekosistem pertanian alelopati dapat menurunkan atau meningkatkan produktivitas lahan, tergantung pada pembentuk alelokimia (tanaman atau gulma), organisme sasaran dan aktivitasnya. Oleh karena itu penerapannya memerlukan strategi tertentu, yang menurut Einhellig (1995a), dan Caamal-Maldonado et al. (2001) adalah mengendalikan gulma dan atau patogen melalui:

1. Pola tanam di lapang. Untuk ini diperlukan tanaman non-produksi (yang selanjutnya disebut tanaman X), yang bersifat alelopat terhadap gulma atau patogen namun tidak terhadap tanaman produksi, dan pemanfaatannya melalui: a) rotasi tanam: dengan menanam tanaman X di antara waktu tanam tanaman produksi, b) cover crop: tanaman X ditanam sebagai tanaman penutup tanah, c) tanaman sela: X ditanam di antara tanaman produksi, atau d) mulsa: organ tanaman X yang diketahui sebagai pembentuk alelokimia dijadikan sebagai mulsa. Pemilihan pola tanam didasarkan atas sifat morfologi dan fisiologi tanaman X, organ pembentuk alelokimia, mekanisme pelepasan, sifat alelokimia dan sebagainya.
2. Produksi pestisida alami dari alelokimia. Alelokimia yang menghambat gulma atau patogen diformulasi dan diproduksi secara marketable menjadi pestisida alami (herbisida, fungisida, bakterisida dan sebagainya).
3. Pemuliaan tanaman untuk memperoleh kultivar tanaman produksi yang alelopatik bagi gulma pesaingnya. Pada jenis tanaman tertentu mungkin telah ada varitas alami yang bersifat demikian. Bagi jenis tanaman yang belum mempunyai, kultivar seperti ini perlu dikembangkan melalui pemuliaan tanaman secara konvensional (hibridisasi, seleksi, dan identifikasi) maupun non-konvensional (transformasi gen, fusi protoplas, dan lain-lain).
http://nurrijal-biologimetamorfosis.blogspot.com/2009/01/bab-i-pendahuluan-1_12.html

Anonim mengatakan...

IIN ASLINASARI
08330109
BIOLOGI 3B
Dapat kaena senyawa alelopati dapat menghambat penyerapan hara yaitu dengan menurunkan kecepatan penyerapan ion-ion oleh tumbuhan.
menghambat pembelahan sel-sel akar tumbuhan, menghambat pertumbuhan yaitu dengan mempengaruhi pembesaran sel tumbuhan.menghambat respirasi akar.
menghambat sintesis protein. menurunkan daya permeabilitas membran pada sel tumbuhan.
menghambat aktivitas enzim.
Tumbuhan yang bersifat sebagai alelopat mempunyai kemampuan bersaing yang lebih hebat sehingga pertumbuhan tanaman pokok lebih terhambat, dan hasilnya semakin menurun (Anonim, tanpa tahun). Namun kuantitas dan kualitas senyawa alelopati yang dikeluarkan
oleh tumbuhan dapat dipengaruhi oleh kerapatan tumbuhan alelopat, macam tumbuhan alelopat, saat kemunculan saat kemunculan tumbuhan alelopat, lama keberadaan tumbuhan alelopat, habitus tumbuhan alelopat, kecepatan tumbuh tumbuhan alelopat, dan jalur fotosintesis tumbuhan alelopat (C3 atau C4).
Akar teki atau Rumput palsu (batang segitiga) hidup sepanjang tahun dengan ketinggian mencapai 10 sampai 75 cm. Biasanya tanaman liar ini tumbuh di kebun, di ladang dan di tempat lain sampai pada ketinggian 1000 m dari permukaan laut.
Kandungan Kimia:
Akar teki mengandung alkaloid, glikosida jantung, flavonoid dan minyak menguap sebanyak 0,3-1% yang isinya bervariasi, tergantung daerah asal tumbuhnya. Akar yang berasal dari Jepang berisi cyperol, cyperene I & II, alfa-cyperone, cyperotundone dan cyperolone, sedangkan yang berasal dari China berisi patchoulenone dan cyperene.Ekstrak rumput teki dapat menghambat dan merusak tanaman gulma yang lain karena dalam ekstrak rumput teki terdapat zat asam aromatik, asam organik dan aldehida.
cara pembutan ekstrak adalah sebagai berikut:
Pertama menyiapkan rumput teki dan air dengan perbandingan 50:50
membersihkan rumput teki
menghaluskan semua rumput teki dengan cara ditumbuk
menambahkan air pada hasil tumbukan rumput teki
menyaring hingga diperoleh ekstrak rumput teki
ekstrak rumput teki dapat digunakan sebagai bioherbisida dengan cara disiramkan pada tanaman gulma yang ingin dirusak.
DAFTAR PUSTAKA
-http://iqbalali.com/2008/01/23/alelopati/
http://www.asiamaya.com/jamu/isi/teki_cyperusrotundus.htm
http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=154763

Anonim mengatakan...

NAMA : WAHYU NATA SULISTYO
NIM : 08330082
KELAS: BIOLOGI/3b

Pada ekosistem pertanian alelopati dapat menurunkan atau meningkatkan produktivitas lahan, tergantung pada pembentuk alelokimia (tanaman atau gulma), organisme sasaran dan aktivitasnya. Oleh karena itu penerapannya memerlukan strategi tertentu, yang menurut Einhellig (1995a), dan Caamal-Maldonado et al. (2001) adalah mengendalikan gulma dan atau patogen melalui:

1. Pola tanam di lapang. Untuk ini diperlukan tanaman non-produksi (yang selanjutnya disebut tanaman X), yang bersifat alelopat terhadap gulma atau patogen namun tidak terhadap tanaman produksi, dan pemanfaatannya melalui: a) rotasi tanam: dengan menanam tanaman X di antara waktu tanam tanaman produksi, b) cover crop: tanaman X ditanam sebagai tanaman penutup tanah, c) tanaman sela: X ditanam di antara tanaman produksi, atau d) mulsa: organ tanaman X yang diketahui sebagai pembentuk alelokimia dijadikan sebagai mulsa. Pemilihan pola tanam didasarkan atas sifat morfologi dan fisiologi tanaman X, organ pembentuk alelokimia, mekanisme pelepasan, sifat alelokimia dan sebagainya.

2. Produksi pestisida alami dari alelokimia. Alelokimia yang menghambat gulma atau patogen diformulasi dan diproduksi secara marketable menjadi pestisida alami (herbisida, fungisida, bakterisida dan sebagainya).

3. Pemuliaan tanaman untuk memperoleh kultivar tanaman produksi yang alelopatik bagi gulma pesaingnya. Pada jenis tanaman tertentu mungkin telah ada varitas alami yang bersifat demikian. Bagi jenis tanaman yang belum mempunyai, kultivar seperti ini perlu dikembangkan melalui pemuliaan tanaman secara konvensional (hibridisasi, seleksi, dan identifikasi) maupun non-konvensional (transformasi gen, fusi protoplas, dan lain-lain).
http://rudyct.com/PPS702-ipb/07134/enni_s_rahayu.htm

Anonim mengatakan...

Nama : Adya nur fahmi
Nim : 08330061
Kelas : biologi 3B
jawaban:
rumput teki dapat dijadikan sebagai herbisida alternatif karena rumput teki mengandung zat alelopati atau alelopat yang dijadikan sebagai bioherbisida dan dapat menghambat pertumbuhan gulma(setyowati.1998)
Pengamplikasianya zaitu dengan cara membuat ekstrak rumput teki, adapun cara pembuatan ekstrak adalah sebagai berikut.
1.Menimbang akar rumput teki, misal kita mengunakan bahan seberat 50 gram.
2.Memotong-motong akar rumput teki kemudian menghilingnya hingga halus atau diblender
3.kemudian akar rumput teki tersebut dicampur dengan air sebanyak 50 gram (perbandingan 1:1 dengan berat rumput teki)
4.setelah itu menyaringnya dengan kain atau kertas saring sambil memeras-merasnya.
5.Setelah ekstak akar rumput teki didapat, menyiramkan ekstrak tersebut ketanaman secala rutin hinga gulma tersebut mati (± selama 7 hari)
(Rahardjanto,2009)

Anonim mengatakan...

Nama : ANIS WARDATI T
NIM : 08330099
Kelas : BIOLOGI 3B

Jawaban :
rumput teki(Cyperus rotundus)merupakan salah satu spesies gulma yang mengandung senyawa beracun (zat alellopati). Kandungan kimia akar rumput teki memiliki senyawa alkaloid dan glikosida flavonoid (http://alfinjazz.blogspot.com/). Senyawa alkaloid merupakan senyawa organik yang peranannya pada tanaman sebagai faktor penumbuh, pelindung dari hama dan penyakit dan sebagai basa organik.Rumput teki (Cyperus rotundus) yang masih hidup mengeluarkan senyawa alelopati lewat organ di bawah tanah, jika sudah mati baik organ yang berada di atas tanah maupun yang di bawah tanah sama-sama dapat melepaskan senyawa alelopati. Akar teki mengandung alkaloid, glikosida jantung, flavonoid dan minyak menguap sebanyak 0,3-1% yang isinya bervariasi, tergantung daerah asal tumbuhnya. Akar yang berasal dari Jepang berisi cyperol, cyperene I & II, alfa-cyperone, cyperotundone dan cyperolone, sedangkan yang berasal dari China berisi patchoulenone dan cyperene.
http://www.asiamaya.com/jamu/isi/teki_cyperusrotundus.htm
senyawa alelopati dapat menghambat penyerapan hara yaitu dengan menurunkan kecepatan penyerapan ion-ion oleh tumbuhan, menghambat pembelahan sel-sel akar tumbuhan, menghambat pertumbuhan yaitu dengan mempengaruhi pembesaran sel tumbuhan, memberikan pengaruh menghambat respirasi akar, memberikan pengaruh menghambat sintesis protein, dapat menurunkan daya permeabilitas membran pada sel tumbuhan, dapat menghambat aktivitas enzim.
Cara membuat herbisida dari rumput teki yaitu:
1. Mencuci dan membersihkan 100 gram akar rimpang dari rumput reki (Cyperus rotundus).
2. Memotong dan menghaluskan dengan menggunakan mortal martil.
3. Mencampur dengan aquades 500 ml.
4. Memanaskan hingga diperoleh filtrat sebanyak 50%
5. Menyaring filtrat menggunakan kertas saring.
6. Menyemprotkan filtrat pada tanaman yang ingin di musnahkan.

Anonim mengatakan...

NAMA : ANAS NURGITO
NIM : 08330096
KELAS : BIOLOGI 3B


Dapat, Rumput teki termasuk gulma berdaun lebar juga cukup berbahaya karena kemampuannya untuk menurunkan hasil pada tanaman lebih besar dibandingkan jenis gulma lainnya.(awan). Selain itu pertumbuhannya dapat mengganggu pertumbuhan tanaman produksi lain melalui kompetisi karena rumput teki menggandung zat allelopati. Alelopati merupakan suatu peristiwa dimana suatu individu tumbuhan yang menghasilkan zat kimia dan dapat menghambat pertumbuhan jenis yang lain yang tumbuh bersaing dengan tumbuhan tersebut (Atani.2007).
nya pada tanaman sebagai faktor penumbuh, pelindung dari hama dan penyakit dan sebagai basa organik. Kandungan alakloid pada rumput teki hanya berkisar 1-2 %. namun apabila kelebihan konsentrasi akan meracuni tumbuhan tersebut. Selain itu ekstrak rumput teki memiliki kandungan Cl yang cukup tinggi, yaitu sebesar 10,893 % (http://digilib.unila.ac.id/files/disk1/33/laptunilapp-gdl-res-2009-drstasviri-1608-2008_lp_-i.pdf).
Cara Pengunaan :
Sebelum rumput teki digunakan sebagai bioherbisida terlebih dahulu diproses dengan membuat sebuah ekstrak bioherbisida berbahan rumput teki dengan metode Ekstraksi. Pembuatan ekstraksi bertujuan mengisolasi bahan utama yang digunakan sebagai biohertbisida yakni senyawa alelopati. Pada umbi rumput teki direndam dengan pelarut organik contoh, etanol, alkhohol, eter, dll selanjutnya didestilasi (Proses pemisahan senyawa polar dan hasil ekstraksi) untuk mendapatkan senyawa alelopati. Jika isolasi senyawa didapatkan selajutnya dapat digunakan sebagai bioherbisida dengan cara menyemprotkan pada hama yang akan dibasmi.

daftar pustaka:
Atani.2007.http://atanitokyo.blogspot.com/2007.
Wanita. (http://digilib.unila.ac.id/files/disk1/33/laptunilapp-gdl-res-2009-drstasviri-1608-2008_lp_- i.pdf).

Anonim mengatakan...

nama : Qathrun nada F nisa
nim : 08330095
kLs : Biologi 3b

Ya,alelopati dpat dgunakan sebagai herbisida buatan, karena alelopati memiliki manfaat sbb:
1. Untuk mengendalikan gulma dan penyakit
2. Mencegah timbulnya pencemaran
3. Menambah ketersediaan unsur hara
4. Meminimalkan kerugian dari akibat radiasi matahari dengan pengelolaan iklim mikro, pengelolaan air dan pengendalian erosi.
Penerapan alelopati dalam pertanian secara garis besar adalah untuk mengendalikan gulma dan penyakit menggunakan bahan yang berasal dari tumbuhan atau mikroorganisme, yaitu meminimalkan serangan hama (termasuk gulma) dan penyakit pada tanaman melalui pencegahan dan perlakuan yang aman. Penggunaan pestisida yang berasal dari tumbuhan bersifat relatif aman, karena berbeda dengan bahan kimia sintetis, bahan alami mudah terurai sehingga tidak akan meninggalkan residu di tanah atau air, dan oleh karena itu tidak menimbulkan pencemaran. Penanaman tanaman produksi maupun non-produksi yang alelopatik terhadap gulma atau patogen bahkan dapat dikatakan tidak menimbulkan efek negatif terhadap lingkungan dan manusia, dan murah bagi petani sehingga petani tidak perlu menambahkan input dari luar.
(http://nurrijal-biologimetamorfosis.blogspot.com/2009/01/bab-i-pendahuluan-1_12.html)
ekstrak umbi teki terbukti mampu
menghambat perkecambahan dan pertumbuhan kecambah beberapa spesies gulma berdaun lebar (setyowati, 1998)
(http://bdpunib.org/jipi/artikeljipi/2001/16.PDF)

Anonim mengatakan...

Nama : Apsuci Dwi Sayekti
Nim : 08330085
Kelas : Biologi IIIB

Dapat. Rumput teki (Cyperus rotundus)bisa digunakan sebagai herbisida karena senyawa alelopati yang terkandung didalamnya dapat menghambat penyerapan hara, pembelahan sel-sel akar, pertumbuhan tanaman, fotosintesis, respirasi, sitesis protein, menurunkan daya permeabilitas membran sel dan menghambat aktivitas enzim (http://fp.uns.ac.id/~hamasains/dasarperlintan-4.htma).
rumput teki dapat dijadikan sebagai herbisida untuk membunuh gulma yang tumbuh di sekitar tanaman atau tumbuhan selain sorgum dan kedelai. Spesies gulma yang diketahui mengeluarkan senyawa racun adalah alang-alang (Imperata cylinarica), grinting (Cynodon dactylon), teki (Cyperus rotundus), Agropyron intermedium, Salvia lenocophyela (Anonymous, 2009).
Zat-zat kimia atau bahan organik yang bersifat allelopati dapat digolongkan menjadi dua golongan berdasarkan pengaruhnya terhadap tumbuhan atau tanaman lain sebagai berikut.
1.Autotoxid, yaitu zat kimia bersifat allelopati dari suatu tumbuhan dapat mematikan atau menghambat pertumbuhan anaknya sendiri atau individu lain yang sama jenisnya.
2.Antitoxic, yaitu zat kimia bersifat allelopati dari suatu tumbuhan yang dapat mematikan atau menghambat pertumbuhan tumbuhan lain yang berbeda jenisnya
(Setiadi, 1983).

Daftar Pustaka :
(http://fp.uns.ac.id/~hamasains/dasarperlintan-4.htma).
Anonymous. 2009. (http://www.tambur.co.tv/2009/03/isolasi-glikosida-plavon-pada-rumput.html).
Setiadi, Y. 1983. Pengertian Dasar tentang Konsep Ekosistem. Institut Pertanian Bogor. Bogor

Anonim mengatakan...

nama : Qathrun nada F nisa
nim : 08330095
kLs : Biologi 3b

Ya,alelopati dpat dgunakan sebagai herbisida buatan, karena alelopati memiliki manfaat sbb:
1. Untuk mengendalikan gulma dan penyakit
2. Mencegah timbulnya pencemaran
3. Menambah ketersediaan unsur hara
4. Meminimalkan kerugian dari akibat radiasi matahari dengan pengelolaan iklim mikro, pengelolaan air dan pengendalian erosi.
Penerapan alelopati dalam pertanian secara garis besar adalah untuk mengendalikan gulma dan penyakit menggunakan bahan yang berasal dari tumbuhan atau mikroorganisme, yaitu meminimalkan serangan hama (termasuk gulma) dan penyakit pada tanaman melalui pencegahan dan perlakuan yang aman. Penggunaan pestisida yang berasal dari tumbuhan bersifat relatif aman, karena berbeda dengan bahan kimia sintetis, bahan alami mudah terurai sehingga tidak akan meninggalkan residu di tanah atau air, dan oleh karena itu tidak menimbulkan pencemaran. Penanaman tanaman produksi maupun non-produksi yang alelopatik terhadap gulma atau patogen bahkan dapat dikatakan tidak menimbulkan efek negatif terhadap lingkungan dan manusia, dan murah bagi petani sehingga petani tidak perlu menambahkan input dari luar.
(http://nurrijal-biologimetamorfosis.blogspot.com/2009/01/bab-i-pendahuluan-1_12.html)
ekstrak umbi teki terbukti mampu
menghambat perkecambahan dan pertumbuhan kecambah beberapa spesies gulma berdaun lebar (setyowati, 1998)
(http://bdpunib.org/jipi/artikeljipi/2001/16.PDF)
cara pembuatannya:
.Buatlah ekstrak alang-alang, pinus, dan mangum dengan cara berikut:
a. Hancurkan dan haluskan bagian tumbuhan yang di pilih tersebut dengan mangkok pengerus atau blender.
b.Buatlah ekstrak atau hasil rendaman bagian tumbuhan tersebut dengan air, dengan perbandingan bagian tumbuhan : air adalah 1:7, 1:14,dan 1:21 dan biarkan selama 24 jam. Setelah 24 jam. Saringlah ekstrak yang di peroleh dengan menggunakan alat penyaring.
c.Siramkan ekstrak allelopati
(http://juliusthh07.blogspot.com/2009_04_01_archive.html)

Anonim mengatakan...

Nama : Nurul Hidayati
Nim : 08330075
Kelas : Biologi IIIB

Bisa. digunakan sebagai pengganti herbisida, karena zat alelopati merupakan senyawa yang dapat menghambat aktivitas enzim dan rumput teki merupakan tumbuhan yang mengandung alelopati. Persaingan yang timbul akibat dikeluarkannya zat yang meracuni tumbuhan lain disebut alelopati dan zat kimianya disebut alelopat. Umumnya senyawa yang dikeluarkan adalah dari golongan fenol.
Senyawa-senyawa kimia yang mempunyai potensi alelopati dapat ditemukan di semua jaringan tumbuhan termasuk daun, batang, akar, rizoma, umbi, bunga, buah, dan biji. Senyawa-senyawa alelopati dapat dilepaskan dari jaringan-jaringan tumbuhan dalam berbagai cara termasuk melalui :
a.Penguapan
b.Eksudat akar
c.Pencucian
d.Pembusukan organ tumbuhan
Rumput teki mampu membasmi gulma2 yang ada disekitarnya, hal ini dapat diartikan bahwa rumput teki dapat pula digunakan sebagai alternatif pembasmi hama.
Rohman,dkk.2009.http://info.g-excess.com/id/info/pengertianPenjelasan-Alelopati.info
Rumput teki (Cyperus rotundus) merupakan tumbuhan gulma yang tergolong ke dalam famili cyperaceae. Kandungan kimia akar rumput teki memiliki senyawa alkaloid dan glikosida flavonoid (http://alfinjazz.blogspot.com/).
Cara penggunaan ekstrak alelopati teki dengan memblender akar/umbi teki dengan campuran aquades kemudian disentrifuse. Selanjutnya ekstrak ini diformulasikan dengan senyawa lain yang bertindak sebagai carrier dalam bentuk formulasi cairan. Dan ekstrak tersebut digunakan sebagai herbisida.
Berdasarkan literatur yang ada menunjukkan bahwa campuran ekstrak umbi teki dengan carrier berpengaruh terhadap variabel panjang akar. Dengan demikian dapat digunakan sebagai herbisida (pembasmi gulma).-Setyowati,1998. Respon Pertumbuhan Gulma Terhadap alelopati teki. Prosiding seminar pengelolaan gulma yang tepat guna dan berwawasan lingkungan. Palembang 4 April 1998. Hal 164-169.

Daftar Pustaka :
Rohman,dkk.2009.http://info.g-excess.com/id/info/pengertianPenjelasan-Alelopati.info
(http://alfinjazz.blogspot.com/).
-Setyowati,1998. Respon Pertumbuhan Gulma Terhadap alelopati teki. Prosiding seminar pengelolaan gulma yang tepat guna dan berwawasan lingkungan. Palembang 4 April 1998. Hal 164-169.

Anonim mengatakan...

Marteni Sari
08330077
Biologi III.B

Tumbuh-tumbuhan dapat bersaing antar sesamanya secara interaksi biokimiawi, yaitu salah satu tumbuhan mengeluarkan senyawa beracun ke lingkungan sekitarnya dan dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan tumbuhan yang ada di dekatnya. Interaksi biokimiawi antara gulma dan pertanamanan antara lain menyebabkan gangguan perkecambahan biji, kecambah jadi abnormal, pertumbuhan memanjang akar terhambat, perubahan susunan sel-sel akar dan lain sebagainya. Beberapa species gulma menyaingi pertanaman dengan mengeluarkan senyawa beracun dari akarnya (root exudates atau lechates) atau dari pembusukan bagian vegetatifnya. Persaingan yang timbul akibat dikeluarkannya zat yang meracuni tumbuhan lain disebut alelopati dan zat kimianya disebut alelopat. Umumnya senyawa yang dikeluarkan adalah dari golongan fenol.
Salah satu yang memiliki zat Alelopati adalah rumput teki (Cyperus rotundus). Pertanyaannya adalah apakah rumput teki dapat digunakan sebagai herbisida (pembasmi gulma) ? jawabannya bisa iya bisa tidak. Herbisida alami dengan menggunakan rumput teki akan berfungsi bila jenis gulma yang dibasmi tidak mempunyai senyawa racun karena tidak semua gulma mempunyai zat racun. Spesies gulma yang diketahui mengeluarkan senyawa racun adalah alang-alang (Imperata cylinarica), grinting (Cynodon dactylon), teki (Cyperus rotundus), Agropyron intermedium, Salvia lenocophyela dan lain-lain. Jadi, pembasmian gulma dengan rumput teki sulit dilakukan apabila spesies gulma yang akan dibasmi memiliki senyawa racun juga.

Daftar Pustaka
http://fp.uns.ac.id/~hamasains/dasarperlintan-4.htm

opqnk_jelek mengatakan...

danur.novalendra ( 06330041 )
biologi 3B1
jawaban :1.dapat , bahan aktif herbisda ( rumput teki ) di formulasikan dalam berbagai betuk sebelum diplikasikan ketumbuhan sasaran / formulasi herbisida bermacam- macam antara lain dapat berupa cairan , tepung, butiran dan sebagainya bahan aktif herbisida jika tidak di formulasika tidak dapat di lakukan dengan baik oleh konsumen, agar bahan aktif dapat di aplikasikan dengan baik dan benar perlu difomulasikan. Herbisida ( cyperus rotundus ) dalam bentuk formulasi akan memudahkan dan atau meningkatkan pengangkutan,penyimpanan, aplikasi efiksi dan keselamatan kerja.Formalisi herbisida dapat menambahakan bahan aktif dengan pembawa ( carrier ) baik berupa pelarut sukfutan , gambut , lempung, dan lain-lain.formulasi ektrak teki dalam bentuk cairan yang lebig gampang mengaplikanya. .hal ini di sebabkan tempat masuknya herbisida ke tanaman , apakah lewat daun , akar atau batang karena sangat menentukan keberhasilan pengendalian gulma .
Pendapat saya terhadap ektrak rumput teki sebagai menghambat gulma karena didalam rumput teki terkandung allelopati dan dan zatnya allelopat yang mengandung senyawa kimia diantaranya alkaloid dan flanoid yang dapat menghambat perkecambahan dan pertumbuhan pada tanaman gulma / dan selaim itu penggunaan herbisida cyperus rotundus sangatlah rama lingkungan.
sumber : setyowati nanik dkk.2001.jurnal efikasi allelopati teki formulasi cairan terhadap gulma mimosa invisa dan melocia corcorilifolia.universitas pertanian bengkulu
http://www.asiamaya.com/jamu/isi/teki_cyperusrotundus.htm

UpUp9 mengatakan...

mana katanya acc penglingx tepat jam 00:00
ko, g, ada nie
udah di bela2in g, tidur ......
e..... taox g, ada..............
mana janjinya
alwa,du dainun.....
and only god is knowing,,,,.

Anonim mengatakan...

Ernovika Dwi Kusuma W

Rumput teki (Cyperus rotundus) dapat digunakan sebagai alternatif pembasmi gulma yang ramah lingkungan dan berwawasan lingkungan.
Ekstrak umbi teki terbukti mampu menghambat perkecambahan, pertumbuhan kecambah beberapa spesies gulma berdaun lebar (Setyowati,1998) dan juga gulma Mimosa pygra, Mimosa invisa, Casia alata, Phorophylum rudorale (Setyowati, et al, 1998). Rendaman umbi teki kering angin dapat menghambat perkecambahan benih gandum, kacang-kacangan dan mustard (Leela,1995). Ekstrak yang berasal dari umbi teki segar dilaporkan dapat menghambat panjang akar "Chikcpea" (Cicer arietinum L) (Saxena dan Varshney, 1995).
Dari pernyataan di atas, rumput teki dapat digunakan sebagai herbisia alami dengan dibentuk menjadi ekstrak. Adapun proses pembuatan ekstrak rumput teki konsentrasi 10 %:
- 50 gr umbi teki segar diblender dengan aquadest 20 mL.
- Disentrifuge selama 10 menit dengan kecepatan 5000 rpm
- supernatannya dipisahkan dan ditambahkan aquadest sampai volume 500mL
- Diformulasikan dengan senyawa lain yang bertindak sebagai carrier yaitu alkilaril poliglicol eter.
Ekstrak ini bisa dipakai sebagai herbisida yang ditambahkan melalui akar bersamaan dengan waktu tanam benih dan melalui tajuk gulma pada hari kelima, sepuluh dan lima belas setelah tanam, (Setyowati, 2001)

Daftar Pustaka:
Saxena, A. and J.G. Varshney. 1995. Allelopatic Effects of Cyperus rotundus on Germination and Growth of Pea and Chickpea. Allelophaty Journal 2 (2):209-212

Setyowati. 1998. Allelophatic potential of Congoras, Yellow Nutsedge and Sun Flower on Selected Weed Species. Bogor (in Prosses Publishing)

Setyowati. dan Suprijono, E.2001. Efikasi Alelopati Teki Formulasi Cairan Terhadap Gulma Mimosa invisa dan Melochia chorchorelia.http://
bdpunib.org/jipi/artikeljipi/2001/16.PDF

Anonim mengatakan...

Ernovika Dwi Kusuma wardani

Rumput teki (Cyperus rotundus) dapat digunakan sebagai alternatif pembasmi gulma yang ramah lingkungan dan berwawasan lingkungan.
Ekstrak umbi teki terbukti mampu menghambat perkecambahan, pertumbuhan kecambah beberapa spesies gulma berdaun lebar (Setyowati,1998) dan juga gulma Mimosa pygra, Mimosa invisa, Casia alata, Phorophylum rudorale (Setyowati, et al, 1998). Rendaman umbi teki kering angin dapat menghambat perkecambahan benih gandum, kacang-kacangan dan mustard (Leela,1995). Ekstrak yang berasal dari umbi teki segar dilaporkan dapat menghambat panjang akar "Chikcpea" (Cicer arietinum L) (Saxena dan Varshney, 1995).
Dari pernyataan di atas, rumput teki dapat digunakan sebagai herbisia alami dengan dibentuk menjadi ekstrak. Adapun proses pembuatan ekstrak rumput teki konsentrasi 10 %:
- 50 gr umbi teki segar diblender dengan aquadest 20 mL.
- Disentrifuge selama 10 menit dengan kecepatan 5000 rpm
- supernatannya dipisahkan dan ditambahkan aquadest sampai volume 500mL
- Diformulasikan dengan senyawa lain yang bertindak sebagai carrier yaitu alkilaril poliglicol eter.
Ekstrak ini bisa dipakai sebagai herbisida yang ditambahkan melalui akar bersamaan dengan waktu tanam benih dan melalui tajuk gulma pada hari kelima, sepuluh dan lima belas setelah tanam, (Setyowati, 2001)

Daftar Pustaka:
Saxena, A. and J.G. Varshney. 1995. Allelopatic Effects of Cyperus rotundus on Germination and Growth of Pea and Chickpea. Allelophaty Journal 2 (2):209-212

Setyowati. 1998. Allelophatic potential of Congoras, Yellow Nutsedge and Sun Flower on Selected Weed Species. Bogor (in Prosses Publishing)

Setyowati. dan Suprijono, E.2001. Efikasi Alelopati Teki Formulasi Cairan Terhadap Gulma Mimosa invisa dan Melochia chorchorelia.http://
bdpunib.org/jipi/artikeljipi/2001/16.PDF

kel 1 bio 3B laporan prktkum lapang ektum mengatakan...

ass pak husamah untuk laporan praktikum lapang ektum kel 1 bio 3B bisa dilihat di blog klompok kami di bawah ini. trimakasih wss

http://kitabisaguyz.blogspot.com/