
OLeh: Husamah
(Alumni Biologi-FKIP-UMM)
Menyikapi sertifikasi, minimal guru akan terpecah menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama adalah para guru yang memang setuju, telah siap, berpengalaman, kompeten dan tentu berprestasi. Kelompok kedua pasti para guru yang menganggap sertifikasi perlu untuk menaikkan taraf hidup dan profesionalitas, tetapi merasa kesulitan karena masih banyak kekurangan. Kelompok ketiga tentu para guru yang ingin hidup layak tanpa harus bersusah-payah mengikuti sertifikasi.
Memang sulit merubah pola pikir guru, terlebih kelompok ketiga ini. Ironisnya, jumlah kelompok ketiga itu lebih dominan. Sertifikasi bagaikan momok yang menakutkan. Mereka tidak pernah memperdulikan latar belakang diadakannya sertifikasi sebagai bentuk dedikasi untuk melahirkan guru-guru yang kompeten dan profesional.
Selama ini sistem telah membuat para guru begitu santai dan asal “ngajar”. Buktinya, Kebanyakan guru juga hanya sekedar masuk kelas, mengisi presensi, memberi tugas pada siswa dan sekedar menggugurkan kewajiban. Para sarjana non-kependidikan pun mudah saja beralih menjadi guru jika tidak memiliki pekerjaan. Hanya dengan menempuh Akta IV selama tiga bulan, mereka telah menjadi guru.
Tak dapat dipungkiri posisi guru sebagai ujung tombak alias pilar utama menuju kemajuan bangsa yang telah disepakati sepanjang sejarah semakin bias. Guru yang dikenal sebagai aktor dalam proses pemanusiaan dan kemanusiaan, hanya berfungsi sebagai pelengkap sekolah semata.
Potret buram dunia guru dan dunia pendidikan itu harus segera diakhiri. Perlu menjadi kesepakatan bersama bahwa sertifikasi tidak lain merupakan salah satu jawaban kongkrit dari pemerintah guna memenuhi desakan untuk meningkatan mutu pendidikan. Meningkatnya mutu pendidikan kemudian harus dibarengi peningkatan kesejahteraan bagi guru yang selama ini dirasa teramat rendah. Hal itu pula didasarkan atas asumsi bahwa persoalan peningkatan mutu pendidikan tentu bertolak pada mutu guru. Tanpa adanya peningkatan dari mutu guru itu sendiri jelas kualitas pendidikan di tanah air saat ini tidak akan banyak berubah.
Langkah paling bijak yang mendesak dilakukan adalah mengubur mitos keangkeran sertifikasi. Saatnya guru dituntut memiliki keterampilan yang memadai. Tidak hanya asal mengajar di kelas kemudian pulang. Mereka dituntut untuk berkreasi, berinovasi, mengembangkan ilmunya, dan mencontohkan kesuksesan (prestasi) dan kerja keras pada muridnya.
Pola pikir instan dan asal-asalan saatnya dibuang jauh-jauh. Budaya ilmiah dan kreatif segera dibangun, misalnya dengan giat menulis. Menulis di media massa dan lomba-lomba tentu lebih mulia dari nyambi ngojek untuk mengepulkan asap dapur. Jika budaya menulis itu dipupuk, justru akan menjadi modal guru menuju sertifikasi, selain juga mendatangkan rezeki bagi dirinya (honor dan hadiah menulis).
Sebenarnya telah banyak buku beredar yang berupaya memberikan inspirasi dan motivasi bagaimana mengoptimalkan potensi yang dimiliki guru, dan bagaimana mengelola waktu luang untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Bahkan jika “ajaran” ini diamalkan mungkin penghasilan guru bisa lebih besar dari gaji pokok sebagai guru di sekolah dengan tidak mengurangi dedikasi dan profesionalisme sebagai guru.
Buku “Siapa Bilang Jadi Guru Hidupnya Susah?” karangan Hasyim Ashari (April, 2007) misalnya. Sangat banyak ilmu yang dapat dipergunakan guru. Seperti bagaimana menulis buku, menulis di media massa dan menulis untuk lomba-lomba kepenulisan.
Menulis bukanlah bakat istimewa tetapi lebih kepada tekad yang kuat. Intinya, sediakan waktu untuk menulis dan jangan takut menulis. Pada buku ini dijelaskan pula tips bagi yang baru memulai karier sebagai penulis dan tips mengirimkan naskah ke penerbit beserta contoh-contohnya, alamat-alamat email media massa dan penerbit.
Buku yang terkait dengan karya ilmiah dan penelitian tindakan kelas juga semakin banyak. Ini dapat dijadikan rujukan mengikuti lomba-lomba kategori guru. Menurut pengalaman penulis, biasanya lomba ini minim peserta sementara hadiahnya cukup menggiurkan, sementara sertifikat pemenang dapat digunakan untuk sertifikasi.
Akhirnya, sudah saatnya sertifikasi dianggap sebagai anugerah dan tidak perlu ditakuti. Momen itu hanyalah sebuah keniscayaan menuju pengakuan dan penghargaan terhadap profesi guru. Toh, guru-guru yang telah lulus sertifikasi terdahulu telah menikmatinya. Dan berangkatlah menjadi guru bermutu dengan melakukan beberapa kegiatan di atas. Jayalah guru Indonesia.
sumber foto: http://ima.dada.net/image/14910458.jpg