18 Agustus 2009

Teripang, Penyembuh Mujarab


(TULISAN INI TELAH DIMUAT DI HARIAN SURYA Kamis, 12 Februari 2009 | 8:34 WIB)

Oleh Moh Sarip Hidayatullah
Anggota UKM Forum Diskusi Ilmiah UMM
sya_...@yahoo.co.id




INDONESIA merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17.508 pulau serta panjang garis pantai 81.000 km. Sekitar 75 persen wilayah Indonesia terdiri laut dengan pantai kaya akan berbagai jenis sumber daya hayati. Sebagai salah
satu negara maritim terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi sumber daya pesisir dan laut yang sangat besar.

Salah satu komoditi subsektor perikanan yang cukup potensial adalah teripang. Hampir semua jenis teripang dapat mudah dikenali melalui bentuk tubuhnya yang bulat memanjang seperti ketimun. Perburuan teripang oleh nelayan Madura dan Bugis bahkan sampai terumbu Ashmore di Perairan Utara Australia, paling tidak sejak awal 1700-an.

Meski sudah lama diburu, pemanfaatan teripang sebagai bahan pangan dibanding produk perikanan lainnya tergolong kurang populer. Dilihat dari bentuk fisik teripang terkesan menjijikkan.

Padahal, teripang memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh atau sebagai obat/penyembuh berbagai penyakit. Teripang kering punya kadar protein tinggi, yaitu 82 persen. Di China dilaporkan, secara medis tubuh dan kulit teripang jenis Stichopus japonicas berkhasiat menyembuhkan penyakit ginjal, penyakit jantung, alergi, paru-paru basah, anemia, anti-imflamasi, dan mencegah arteriosklerosis serta penuaan jaringan tubuh (antiageing).

Ekstrak murni teripang mempunyai kecenderungan menghasilkan holotoksin yang efeknya sama dengan antimicyn dengan kadar 6,25-25 mikrogram/milliliter. Selain itu, teripang mengandung asam lemak tidak jenuh jenis omega 3 yang penting untuk kesehatan jantung. Penelitian terbaru Institut Kimia Universitas Los Banos Filipina (2006) mengungkap, teripang dapat menjadi agen antitumor dan sebagai obat HIV.

Yang paling berpengaruh adalah senyawa bernama lektin. Senyawa lektin bersifat mitogenik atau sel berkembang cepat dan antimikroba. Lektin efektif melawan kanker otot pada tikus dan kanker paru-paru manusia dengan dosis masing-masing 5 dan 50 mikrogram. Lektin berefek terapi bagi HIV karena mampu menggumpalkan sel jahat. Itu terlihat ketika diuji di laboratorium dengan menggunakan sellimfoid.

Namun hal yang perlu diperhatikan adalah keberadaan teripang di Indonesia yang saat ini sangat terancam. Sediaan stok teripang di alam menurun drastis disertai berbagai kerusakan pada habitatnya. Ini berbahaya mengingat sekali kepadatan populasi teripang turun di bawah titik kritis, sangat sulit populasi pulih kembali. Perlu usaha pelestarian dan pembudidayaan untuk mengurangi pengambilan stok alami berlebihan.