16 September 2011

Nikmatnya Menjadi Musafir Lebaran



DIMUAT DI HARIAN SURYA KAMIS, 8 SEPTEMBER 2011 | 11:10 WIB DIBACA: 7,200

Husamah
Dosen Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang
usya_bio@yahoo.com

Berlebaran di kampung halaman atau di tanah di mana kita dilahirkan dan dibesarkan memang momen yang paling ditunggu. Bagaimana tidak, di kampung halaman kita dapat merasakan kembali kasih sayang tanpa pamrih, kasih sayang tulen bukan sekadar basa-basi. Tak heran, bila kemudian kita merelakan diri berdesakan mengantre tiket, berjejal-jejal di kendaraan, dan mengendarai kendaraan roda dua ratusan kilometer. Ada yang rela berhari-hari mengarungi ombak bersama kapal pengangkut barang menuju ke pulau-pulau terpencil.

Berlebaran di rumah sendiri memang punya nilai lebih, dibandingkan merayakan lebaran di perantauan. Bagi para perantau, sekiranya dalam setahun dapat sekali berkumpul dengan keluarga alangkah melegakan. Di hari penuh khidmad itu, peristiwa saling bermaafan dengan anggota keluarga terutama orangtua, sungguh kenikmatan tak terbeli. Sedihnya, tentu tak semua orang memiliki kesempatan bisa berlebaran di kampung halaman masing-masing. Ada yang harus berlebaran di rantau. Lewat media facebook, seorang teman satu kampung mengirimkan pesan ke saya bahwa ia tak mudik lebaran tahun ini karena banyaknya tugas yang harus diselesaikan. Kebetulan ia mahasiswa aktivis di kampus swasta di Malang. Memang, kami berasal dari kepulauan terpencil di sebelah timur pulau Madura. Pulau Pagerungan Kecil, Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep.
Biasanya saat mudik, para perantau dan pelajar asal pulau tersebut harus menunggu kapal berhari-hari di Banyuwangi. Jadwal keberangkatan kapal biasanya 7-10 hari, dengan waktu tempuh kurang lebih 12 jam dan tarif Rp 34.000. Jangan bayangkan betapa mewahnya kapal tersebut karena hanya berupa kapal barang. Penumpang harus berjejer bak ikan pindang. Itupun baru sampai di ibukota kecamatan.

Jika hendak ke Pulau Pagerungan Kecil, kita harus menaiki perahu taksian selama tiga jam dengan tarif Rp 10.000 hingga Rp 20.000. Untungnya, semua penderitaan mudik tidak terasa karena dorongan rasa rindu berlebaran di tanah kelahiran. Besarnya ombak, teriknya matahari yang membakar dan dinginnya angin malam laut terkalahkan oleh bayangan wajah orangtua, sanak famili dan teman-teman bermain semasa kecil.

Kembali ke teman tadi, ia menyampaikan rasa sedihnya yang mendalam. Ia membayangkan bagaimana getirnya ketika mendengar takbir berkumandang. Terbayang wajah orangtua dan saudaranya. Apa daya, demi cita-cita kesuksesan studi dan masa depan, semua itu harus diterima secara lapang. Saya merasakan hal yang hampir sama dengan teman tadi. Namun, saya lebih beruntung karena meski tak sempat mudik ke rumah orangtua, saya masih bisa mudik ke tempat lain. Ya, lebaran tahun ini saya mengubah jalur mudik. Biasanya jalur yang ditempuh adalah Malang-Banyuwangi-Sapeken-Pulau Pagerungan Kecil. Sekarang, karena sudah ada istri, jalur mudik berubah menjadi Malang-Batu-Kediri-Jombang. Istri saya berasal dari kota santri Jombang. Tentu saya berharap tahun depan saya dan keluarga akan kembali ke jalur mudik utama tadi.

Berlebaran di kota santri Jombang, kami sudah menyiapkan berbagai agenda wajib. Selain ritual berkunjung ke keluarga besar di Jombang, kami pun mengunjungi keluarga di Kabupaten Blitar. Oleh karena itu jauh-jauh hari, mobil yang hendak digunakan sudah diperiksa. Kondisi kendaraan harus dipastikan sebaik mungkin. Hal yang membuat khawatir adalah kondisi jalanan yang pasti ramai. Oleh karena itu kondisi fisik dan mental harus disiapkan agar tidak stres. Tentu yang paling penting adalah banyak-banyak berdoa semoga selalu diberikan kelancaran dan keselamatan.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

anisa
201110070311001